HYROX meminta maaf dan mengubah aturan kompetisinya setelah penanganan insiden yang melibatkan atlet Australia, Joanna Wietrzyk, memicu gelombang kritik. Wietrzyk diketahui buang air besar di celana saat mengikuti ajang Ulike HYROX Beijing, China, pada Sabtu (12/9/2026), tetapi tetap melanjutkan perlombaan.
Permintaan maaf itu disampaikan co-founder HYROX, Moritz Furste. Ia mengakui organisasi seharusnya segera mengambil tindakan ketika insiden tersebut terjadi, bukan membiarkan perlombaan berlanjut tanpa intervensi.
“HYROX melakukan kesalahan karena tidak segera bereaksi selama perlombaan. Pada akhirnya, merupakan tugas saya untuk mengantisipasi kemungkinan insiden seperti ini, dan saya tidak melakukannya,” kata Furste, dilansir ESPN, Kamis (17/9/2026).
Aturan kompetisi diubah
Menurut Furste, HYROX telah mengevaluasi proses penyelenggaraan acara setelah insiden di Beijing. Evaluasi tersebut diikuti perubahan pada buku peraturan dan pemberlakuan prosedur baru untuk menangani situasi serupa.
“Kami mulai memperbaiki proses penyelenggaraan acara, sekaligus segera melakukan perubahan pada buku peraturan. Mulai saat ini, aturan dan prosedur baru telah diberlakukan untuk mencegah situasi seperti ini terjadi lagi,” ujarnya.
Dalam ketentuan terbaru, race director memiliki kewenangan menghentikan peserta apabila darah, muntahan, urine, atau feses menimbulkan risiko keselamatan maupun kontaminasi bagi peserta tersebut atau atlet lain. Peserta yang dihentikan karena alasan medis akan tetap dicatat dalam klasemen, tetapi berstatus tidak menyelesaikan lomba atau did not finish (DNF).
Perubahan itu menegaskan kewenangan penyelenggara untuk menghentikan perlombaan seorang atlet ketika kondisi biologis tertentu berpotensi membahayakan keselamatan atau kebersihan area kompetisi. Sebelumnya, dalam kasus Wietrzyk, atlet tersebut tetap melanjutkan lomba meski mengalami insiden buang air besar di celana.
Protokol disebut sudah tersedia
HYROX World menyatakan prosedur medis dan penanganan kontaminasi biologis sebenarnya telah tersedia sebelum kompetisi di Beijing berlangsung. Namun, organisasi tersebut mengakui penerapan protokol itu tidak berjalan jelas.
Menurut HYROX World, aturan yang disiapkan untuk mengakomodasi kompetisi elite sekaligus partisipasi massal menimbulkan kebingungan. Kondisi tersebut membuat penerapan dan pemahaman terhadap protokol tidak seragam ketika insiden terjadi.
“Protokol yang dirancang untuk kompetisi elite dan partisipasi massal menjadi kabur, sehingga menimbulkan ketidakjelasan mengenai bagaimana protokol tersebut diterapkan dan dipahami,” kata HYROX World.
Dengan perubahan tersebut, keputusan penghentian peserta dalam kondisi yang berkaitan dengan risiko medis atau kontaminasi kini secara tegas berada dalam kewenangan race director. Status DNF juga akan dicantumkan bagi peserta yang dihentikan atas dasar medis.












