Tips Mengatasi Kebiasaan Overthinking

Masalah Overthinking di Kalangan Anak Muda Indonesia

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mencatat bahwa sekitar 28 juta masyarakat Indonesia mengalami masalah kejiwaan, terutama terkait dengan overthinking. Overthinking atau kebiasaan berpikir secara berlebihan menjadi salah satu masalah mental yang banyak dikeluhkan masyarakat, khususnya anak muda. Psikolog dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Ratih Ratnasari, mengatakan bahwa overthinking seringkali menjadi penghambat kesehatan mental, di mana berbagai pikiran negatif seperti “Bagaimana kalau gagal?” atau “Apakah saya cukup baik?” dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.

Gejala Overthinking dan Dampaknya

Menurut Ratih, overthinking merupakan pola pikir yang muncul secara berulang, berlebihan, sulit dihentikan, dan fokus pada hal-hal negatif. Gejala umum overthinking antara lain adalah terus-menerus menyesali kesalahan di masa lalu, selalu membayangkan skenario terburuk, kesulitan tidur, dan kelelahan emosional. Selain itu, overthinking juga dapat membentuk siklus negatif yang merusak, di mana pikiran negatif memicu emosi negatif dan berdampak pada perilaku menghindari tanggung jawab, interaksi sosial, serta kecenderungan mencari validasi berlebihan di media sosial.

Kondisi overthinking semakin diperparah oleh adanya distorsi kognitif, di mana kesalahan dalam cara berpikir membuat seseorang memercayai hal-hal negatif yang belum tentu benar. Contohnya, mind reading atau merasa mengetahui pikiran orang lain tanpa bukti konkrit, serta kecenderungan melihat segala sesuatu secara ekstrim tanpa nuansa abu-abu.

Ratih menekankan bahwa yang membuat seseorang menderita bukanlah situasi itu sendiri, melainkan bagaimana cara seseorang menafsirkan situasi tersebut. Oleh karena itu, penting untuk mengatasi overthinking dengan pola pikir yang lebih sehat dan solutif.

Source link