Dokter Imbau Masyarakat Berhati-hati Terhadap Konten Kesehatan di Medsos
Dokter sekaligus pendiri Health Collaborative Center (HCC), Dr dr Ray Wagiu Basrowi, menyarankan agar masyarakat tidak sepenuhnya mempercayai konten kesehatan yang beredar di media sosial, terutama jika informasi tersebut berasal dari akun yang bukan dari kalangan tenaga kesehatan.
Menurut Dr. Ray, banyak influencer yang menyampaikan pesan kesehatan dengan motif utama untuk memasarkan produk. Hal ini sering membuat informasi yang disampaikan menjadi tidak komprehensif karena lebih berfokus pada endorsement dan pemasaran. “Influencer sering kali hanya menggunakan pesan kesehatan sebagai kedok untuk promosi produk, terutama obat dan produk kesehatan. Hal ini bisa berbahaya,” ungkap Dr. Ray dalam wawancara dengan Republika di Jakarta.
Masyarakat Diminta Kritis dalam Memilah Informasi Kesehatan
Dr. Ray mengingatkan masyarakat agar tidak mengandalkan konten di media sosial sebagai acuan utama dalam melakukan diagnosis atau pengobatan pribadi. Penting bagi masyarakat untuk mampu membedakan informasi yang akurat dan dapat dipercaya dengan konten yang cenderung menyesatkan.
“Anak muda maupun masyarakat pada umumnya perlu dilengkapi dengan pengetahuan untuk melakukan validasi terhadap informasi kesehatan yang diperoleh. Mereka perlu mampu memilah informasi yang benar, yang dapat dipercaya, serta yang hanya bersifat tambahan untuk memperluas literasi kesehatan kita,” tambahnya.
Media Sosial Sebagai Sarana Peningkatan Literasi Kesehatan
Meskipun demikian, Dr. Ray mengakui bahwa media sosial kini menjadi salah satu platform efektif dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat. Namun, ia juga menyoroti bahwa masih banyak informasi kesehatan yang tersebar di media sosial yang kurang akurat.
Penelitian dari Pew Research Center menunjukkan bahwa sekitar 47% pengguna media sosial merasa informasi kesehatan yang mereka temukan tidak akurat. Banyak orang, terutama generasi muda, mendapatkan informasi kesehatan dari influencer di bidang kesehatan dan kebugaran, meskipun sebagian besar influencer tersebut bukan tenaga medis profesional.












