Tanda Awal Hipotermia Saat Mendaki Gunung: Mengenal Ngeblank Mendadak

Waspada Hipotermia Saat Mendaki Gunung

Saat ini, semakin banyak anak muda yang menggunakan gunung sebagai tempat healing. Pendakian singkat dengan konsep tektok atau naik-turun dalam satu hari semakin populer. Meskipun demikian, di balik minat ini terdapat risiko kesehatan yang perlu diwaspadai, seperti hipotermia. Kondisi ini bisa menjadi fatal jika tidak ditangani dengan cepat.

Tingkat Hipotermia

Dr. Yusda Kris Sari Wijaya, seorang dokter spesialis anestesi dan dosen di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, menjelaskan bahwa hipotermia terjadi ketika suhu inti tubuh turun di bawah 35 derajat Celsius. Hal ini dapat mengganggu kinerja organ tubuh secara keseluruhan dan berpotensi mengancam nyawa pendaki. Tubuh manusia membutuhkan suhu ideal agar organ-organ vitalnya dapat berfungsi dengan baik. Gangguan pada suhu tubuh dapat memengaruhi jantung dan kemampuannya dalam memompa darah.

Saat suhu tubuh turun, tubuh akan menggigil untuk menghasilkan panas dan mempertahankan suhu. Namun, di lingkungan ekstrem seperti saat mendaki gunung, kondisi ini bisa semakin memburuk. Ketika seseorang kelelahan, cadangan glukosa untuk mempertahankan panas dalam tubuh akan berkurang, sehingga kemampuan tubuh melawan suhu dingin akan menurun.

Fungsi Tubuh yang Terpengaruh

Selain gangguan pada fungsi jantung, hipotermia juga dapat menghambat distribusi oksigen ke seluruh jaringan tubuh. Akibatnya, sel-sel tubuh akan kekurangan oksigen, yang pada akhirnya memengaruhi fungsi otak. Hal ini membuat tubuh sulit merespons suhu dingin dengan cepat dan efektif.

Sumber: Republika.co.id

Source link