Penggunaan media sosial yang intens dapat mempengaruhi remaja dengan berbagai dampak psikologis, mulai dari perasaan takut tertinggal informasi atau tren sosial hingga gangguan tidur. Psikolog Klinis Dewasa, Teresa Indira Andani, S Psi, M Psi, menegaskan bahwa konten di media sosial cenderung menampilkan sisi terbaik seseorang, yang dapat memicu perbandingan sosial yang berlebihan pada remaja. Hal ini dapat memengaruhi harga diri remaja karena bergantung pada respons orang lain di media sosial.
Selain perbandingan sosial, penggunaan media sosial yang intens juga dapat menimbulkan fear of missing out (FOMO), yaitu rasa takut tertinggal informasi atau tren sosial. Kecemasan ini bisa membuat remaja merasa tertekan jika tidak terlibat dalam percakapan digital dengan teman sebaya. Lebih lanjut, penggunaan gawai hingga larut malam juga dapat berdampak negatif terhadap kualitas tidur dan konsentrasi remaja pada keesokan harinya.
Namun, Teresa juga mengakui bahwa media sosial tidak selalu berdampak negatif. Banyak remaja yang memanfaatkannya untuk belajar, membangun komunitas, dan mengekspresikan kreativitas. Masalahnya muncul ketika penggunaan media sosial tidak seimbang dan tidak terkelola dengan baik. Untuk itu, peran orang tua dan lingkungan sangat penting dalam membantu remaja menggunakan media sosial secara sehat dan proporsional. Semua ini penting untuk memastikan kesehatan mental remaja tetap terjaga dalam menghadapi dunia digital yang semakin kompleks dan cepat berubah.












