Kementerian Kesehatan mengingatkan pentingnya tidur berkualitas karena dapat mengganggu kesehatan fisik, mental, dan produktivitas seseorang. Krisis tidur tidak hanya meningkatkan risiko kematian pada kelompok usia menengah hingga lansia, tetapi juga dapat mempengaruhi kognisi dan kesejahteraan secara keseluruhan. Menurut Imran Pambudi dari Kemenkes, tidur adalah pilar kesehatan setara dengan nutrisi dan olahraga. Kurang tidur, baik secara akut maupun kronis, dapat memberikan dampak negatif bagi tubuh, seperti penurunan memori, risiko obesitas, hipertensi, diabetes tipe 2, dan penyakit kardiovaskular.
Survey global ResMed 2025 menunjukkan bahwa banyak orang dewasa di seluruh dunia mengalami krisis tidur dan tidak mencapai rekomendasi tidur 7-9 jam per malam. Studi juga menemukan bahwa kurang tidur berhubungan dengan peningkatan risiko kematian pada kelompok usia menengah hingga lansia. Oleh karena itu, penting bagi individu untuk menjaga kualitas tidur dengan tidur yang cukup di malam hari, membatasi penggunaan layar sebelum tidur, menjaga konsistensi jam tidur, dan memastikan lingkungan tidur yang nyaman.
Para peneliti juga menekankan pentingnya mengukur kualitas tidur melalui berbagai aspek, seperti waktu tidur total, waktu untuk tertidur, frekuensi terbangun malam, efisiensi tidur, dan kepuasan subjektif. Untuk meningkatkan kualitas tidur, disarankan untuk menggelapkan kamar tidur, menjaga suhu yang sejuk, menghindari kafein dan alkohol dekat waktu tidur, serta mengidentifikasi gejala gangguan tidur yang mungkin terjadi. Dengan mengikuti langkah-langkah sederhana ini, diharapkan individu bisa meningkatkan kualitas tidur mereka dan mengurangi risiko terjadinya krisis tidur yang dapat berdampak pada kesehatan mereka secara menyeluruh.












