Generasi Alpha, kelompok anak yang lahir antara tahun 2010 hingga 2024 atau 2025, menunjukkan ketertarikan yang tinggi terhadap media sosial. Menurut psikolog klinis Teresa Indira, fenomena ini tidak terlepas dari kebutuhan perkembangan psikologis mereka. Sejak lahir, generasi ini hidup dalam lingkungan digital yang penuh dengan smartphone, YouTube, TikTok, dan berbagai platform lain. Mereka merupakan generasi pertama yang terbiasa dengan media sosial sebagai bagian dari keseharian mereka.
Dari perspektif teori perkembangan psikososial Erik Erikson, remaja Generasi Alpha saat ini sedang berada pada tahap Identity versus Role Confusion. Mereka sedang dalam proses mencari jati diri dan mencoba memahami peran mereka dalam lingkungan sosial. Media sosial menjadi ruang yang sangat sesuai dengan kebutuhan ini, karena memungkinkan remaja untuk mengekspresikan diri, mendapatkan pengakuan, dan merasa diterima melalui likes, komentar, dan followers.
Tidak hanya faktor psikologis, namun aspek biologis juga turut berperan dalam ketertarikan Generasi Alpha terhadap media sosial. Notifikasi dan interaksi di platform digital memicu pelepasan dopamin di otak, yang memberikan rasa senang dan mendorong keinginan untuk berinteraksi lebih lanjut. Kombinasi antara kebutuhan identitas, koneksi sosial, dan respons biologis membuat media sosial terasa relevan bagi remaja. Hal ini mempertegas bahwa ketertarikan mereka pada media sosial bukan hanya karena teknologi, tetapi juga karena platform tersebut dapat memenuhi kebutuhan perkembangan remaja dalam eksplorasi identitas dan membangun koneksi sosial.
Pemahaman terhadap aspek perkembangan ini menjadi krusial bagi orang tua agar dapat mengawasi penggunaan media sosial anak-anak secara proporsional. Dengan pemahaman yang cukup, orang tua dapat membantu dan mendampingi anak-anak mereka dalam proses pencarian jati diri di era digital. Hal ini akan memastikan bahwa penggunaan media sosial Generasi Alpha dapat berdampak positif pada perkembangan mereka.












