Mengapa Stres Membuat Kita Mengidamkan Makan Terus?

Emotional eating sering terjadi ketika seseorang menghadapi stres, kecemasan, atau tekanan hidup. Kebiasaan ini muncul ketika orang menggunakan makanan sebagai pelarian emosional, bukan karena rasa lapar yang sebenarnya. Menurut pakar gizi dari IPB University, Reisi Nurdiani, perilaku makan ini sangat terkait dengan kondisi psikologis seseorang. Emotional eating dapat terjadi baik dalam suasana emosi positif maupun negatif, dimana seseorang bisa merayakan atau meredakan stres melalui makanan.

Tanda-tanda emotional eating antara lain termasuk makan tanpa rasa lapar, sulit mengontrol porsi, preferensi pada jenis makanan tertentu, dan perasaan bersalah setelah makan. Jika perilaku ini terjadi secara terus-menerus, disarankan untuk berkonsultasi dengan psikolog sebelum mendapatkan pendampingan dari ahli gizi. Ada tiga jenis perilaku makan yang bisa dikenali, yaitu emotional eating, external eating, dan restrained eating. Emotional eating cenderung sering terjadi pada remaja dan dewasa awal, dimana stres dan tekanan hidup biasanya lebih tinggi.

Dalam article tersebut, Reisi juga menyarankan untuk mencari bantuan dari psikolog dan ahli gizi dalam mengatasi emotional eating dan memahami hubungan antara makanan dan kondisi emosional seseorang. Itulah mengapa penting untuk mengidentifikasi perilaku makan yang berhubungan dengan emosi dan belajar cara mengelolanya dengan sehat.

Source link