Hipertensi atau tekanan darah tinggi masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Penyakit ini kerap disebut sebagai silent killer atau pembunuh senyap karena sering tidak menunjukkan gejala yang jelas, namun dapat berujung pada komplikasi serius seperti stroke, gagal ginjal, dan penyakit jantung koroner jika tidak ditangani dengan baik. Dr. Evi Liliek Wulandari, seorang dokter spesialis penyakit dalam RS Universitas Sebelas Maret (UNS), menjelaskan bahwa hipertensi adalah gangguan kesehatan kronis yang ditandai dengan tekanan darah melebihi batas normal di dinding arteri. WHO menetapkan bahwa seseorang dianggap menderita hipertensi jika tekanan sistoliknya mencapai atau melebihi 140 mmHg dan/atau diastolik 90 mmHg.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa sekitar 33 persen dari populasi global mengalami hipertensi pada tahun 2023, dengan kasus terbanyak terjadi di negara-negara berkembang. Faktor risiko hipertensi meliputi usia, jenis kelamin, faktor genetik, riwayat keluarga, dan gaya hidup. Beberapa faktor seperti kurangnya aktivitas fisik, konsumsi garam berlebihan, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, stres, dan kurang tidur dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi.
Untuk mencegah dan mengendalikan hipertensi, penting untuk menjalani gaya hidup sehat dengan pola makan seimbang yang kaya akan buah, sayuran, gandum utuh, dan protein rendah lemak. Pembatasan konsumsi kolesterol dan garam juga dianjurkan untuk menjaga kesehatan jantung dan mengontrol tekanan darah. Jadi, menjaga gaya hidup sehat secara konsisten merupakan kunci utama dalam pencegahan dan penanganan hipertensi.












