Epilepsi masih sering disalahpahami oleh masyarakat. Tidak sedikit yang menganggap epilepsi sebagai penyakit menular, gangguan kejiwaan, atau kondisi yang tidak bisa ditangani. Padahal, secara medis, epilepsi adalah gangguan pada sistem saraf yang dapat dikontrol dengan penanganan yang tepat. Menurut dokter spesialis bedah saraf Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr Wienorman Gunawan, Sp BS, epilepsi terjadi akibat adanya gangguan aktivitas listrik di otak.
Pada penderita epilepsi, terjadi lonjakan sinyal listrik yang tidak normal dan berulang, sehingga memicu kejang atau gangguan kesadaran. Salah satu mitos yang paling sering ditemui adalah anggapan bahwa epilepsi bisa menular. Dr. Wienorman menegaskan hal ini tidak benar. Epilepsi bukan disebabkan oleh infeksi yang dapat berpindah dari satu orang ke orang lain.
Epilepsi juga bukan gangguan kejiwaan melainkan kondisi medis yang berhubungan langsung dengan fungsi otak. Epilepsi dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti riwayat cedera kepala, gangguan bawaan, infeksi otak, stroke, tumor otak, atau gangguan struktur otak lainnya. Gejala epilepsi beragam, mulai dari kejang hebat hingga tatapan kosong tiba-tiba, melamun sesaat, gerakan kecil berulang, atau kehilangan kesadaran singkat. Jika muncul gejala epilepsi, penting untuk segera berkonsultasi dengan dokter.
Ketika menyaksikan seseorang mengalami kejang epilepsi, langkah pertama adalah tetap tenang. Posisikan pasien miring ke samping, singkirkan benda-benda keras di sekitar, longgarkan pakaian di sekitar leher, dan catat durasi kejang. Jangan masukkan benda apa pun ke dalam mulut pasien atau menahan gerakan kejang secara paksa. Setelah kejang berhenti, biarkan pasien beristirahat hingga kesadaran pulih.
Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr Pitono, menegaskan komitmen layanan dalam menangani epilepsi secara menyeluruh. Penanganan pertama yang tepat dan pendampingan oleh dokter spesialis bedah saraf yang berpengalaman dapat membantu penderita epilepsi untuk dapat menjalani hidup secara aktif dan produktif. Jadi, jangan takut namun juga jangan mengabaikan kondisi epilepsi, karena dengan pemahaman yang benar dan penanganan yang tepat, epilepsi bisa dikelola dengan baik.












