Sebuah serangan besar-besaran yang melibatkan Israel dan AS ke Iran dalam waktu dekat telah dipersiapkan dengan matang. Puluh agen yang terlatih di Israel telah berada di Iran dengan peralatan militer canggih. Pesawat tempur Israel siap menyerang instalasi nuklir Iran, peluncur rudal, dan sistem pertahanan udara. Israel dan AS telah berdebat dan mencapai kesepakatan terkait program nuklir Iran, sementara diplomasi terus berlanjut di depan umum.
Namun, di balik layar, persiapan serangan telah berlangsung, termasuk operasi rahasia yang melibatkan agen-agen intelijen di Iran dan rencana yang sangat terperinci. Investigasi oleh The Washington Post dan Frontline PBS mengungkap rincian Operasi 12 Hari yang bertujuan untuk menghancurkan inti dari program nuklir Iran. Pasca operasi, IAEA telah mengonfirmasi kerugian besar pada Iran, meski program nuklir masih berlanjut. Langkah-langkah diplomasi palsu yang dilakukan untuk membingungkan Iran juga terungkap.
Serangan tersebut juga menimbulkan korban sipil dan reaksi dari komunitas internasional. Perlakuan AS terhadap Iran secara bertahap berubah menjadi pengaturan keterlibatan militer AS setelah Iran menolak syarat negosiasi AS. Meskipun operasi telah dilakukan, dampaknya masih belum sepenuhnya terlihat dalam situasi geopolitik di kawasan tersebut. Alih-alih melemahkan Iran, serangan tersebut memperkuat tekad Iran untuk membangun kembali kemampuan rudal dan fasilitas nuklirnya. Penilaian independen menunjukkan dampak yang luas dari serangan tersebut. Masyarakat internasional terus memantau perkembangan situasi politik dan keamanan di kawasan tersebut secara cermat.












