Dokter Anjurkan Pengguna Vape Rutin Cek Gula Darah

Penggunaan vape di Indonesia disebut telah mencapai sekitar 4 juta orang. Temuan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengenai besarnya jumlah pengguna tersebut disertai peringatan tentang potensi dampak kesehatan, termasuk gangguan pengendalian gula darah yang dapat memicu diabetes.

Dalam penelitian BRIN, seluruh sampel pengguna vape yang diuji terdeteksi menderita diabetes. Lembaga tersebut juga menemukan adanya penurunan kemampuan tubuh dalam memproduksi insulin pada pengguna rokok elektronik. Temuan ini dinilai memprihatinkan oleh dokter spesialis penyakit dalam, dr Kasim Rasjidi.

Promosi vape dinilai menyasar kalangan muda

Menurut Kasim, tingginya jumlah pengguna vape tidak terlepas dari promosi yang masif. Rokok elektronik, kata dia, kerap diposisikan sebagai alternatif yang lebih ringan dibandingkan rokok konvensional. Produk tersebut juga sering dipersepsikan sebagai bagian dari gaya hidup yang keren, terutama di kalangan muda.

“Temuan BRIN yang menyebutkan ada 4 juta pengguna rokok elektronik ini memprihatinkan, karena angkanya sangat besar. Menurut saya ini terjadi karena promosi vape yang masif, dianggap sebagai alternatif lebih ringan dari rokok. Bahkan dianggap keren. Padahal, dampaknya sangat luar biasa, termasuk memicu diabetes,” kata Kasim saat dihubungi Republika, Kamis (1/10/2026).

Ia menilai persoalan tersebut dapat menjadi ancaman bagi kesehatan nasional apabila terus dibiarkan. Kasim juga menyarankan pengguna vape untuk rutin memeriksa kadar gula darah.

Nikotin dapat mengganggu kerja insulin

Kasim menjelaskan, salah satu mekanisme yang menghubungkan penggunaan vape dengan peningkatan gula darah berkaitan dengan kandungan nikotin. Zat tersebut dapat menurunkan kepekaan sel tubuh terhadap insulin.

Insulin berfungsi membantu gula darah masuk ke dalam sel untuk digunakan sebagai energi. Namun, ketika sel tubuh kurang sensitif terhadap insulin, gula tidak dapat masuk secara optimal. Akibatnya, sebagian gula tetap berada di dalam aliran darah dan kadar gula darah dapat meningkat.

“Nikotin dalam vape bisa mengurangi kepekaan sel terhadap insulin yang merupakan kunci pembuka gembok supaya gula darah dapat masuk sel untuk digunakan,” ujar Kasim.

Menurut dia, nikotin juga dapat meningkatkan produksi hormon stres, yakni adrenalin dan kortisol. Kedua hormon tersebut merangsang hati menghasilkan lebih banyak gula untuk kemudian dilepaskan ke dalam aliran darah.

“Maka yang terjadi adalah kenaikan kadar gula darah akan terjadi dari dua jalur yaitu sel yang responnya lambat meski ‘gembok’ sudah dibuka oleh ‘kunci’ insulin, ditambah gula dari hati yang dipicu oleh hormon adrenalin dan kortisol,” kata Kasim.

Penjelasan itu menggambarkan dua jalur yang disebut berperan dalam peningkatan kadar gula darah pada pengguna vape: berkurangnya respons sel terhadap insulin dan bertambahnya pelepasan gula dari hati akibat pengaruh hormon stres.

Source link