Diabetes tipe 2 kini semakin banyak ditemukan pada usia produktif, termasuk mereka yang baru memasuki usia 20-an. Menurut diabetolog sekaligus Founder mGanik, dr. Kelvin Candiago, kondisi tersebut tidak selalu disadari karena sebagian orang merasa telah menjalani gaya hidup sehat.
Kelvin menjelaskan, aktivitas fisik seperti bermain padel atau berolahraga di pusat kebugaran belum cukup apabila tidak diimbangi pola makan dan kebiasaan harian yang teratur. Sebagian orang memang telah mengurangi minuman manis, tetapi masih sering tidur larut malam, jarang bergerak, atau makan tanpa jadwal yang jelas.
Jika berlangsung lama, kebiasaan tersebut dapat memicu resistensi insulin. Dalam kondisi ini, tubuh tidak merespons insulin secara optimal sehingga gula darah lebih sulit dikendalikan. Situasi itu turut menjadi perhatian di tengah tingginya jumlah penyandang diabetes di Indonesia.
Komplikasi lebih berbahaya daripada angka kasus
Berdasarkan data International Diabetes Federation (IDF), Indonesia memiliki sekitar 20,4 juta penyandang diabetes dan berada di peringkat kelima dunia berdasarkan jumlah kasus. Namun, Kelvin menilai persoalan utama bukan hanya besarnya angka tersebut, melainkan komplikasi yang dapat muncul ketika diabetes tidak ditangani dengan baik.
“Yang ditakuti dari diabetes itu komplikasinya. Padahal sebelum itu terjadi, mereka sudah mengalami Diabetes yang panjang dulu. Karena Diabetes itu menyerang pembuluh darah, dan mereka nggak merasakan gejala apa-apa,” ujar Kelvin.
Sebanyak 90–95 persen penderita diabetes merupakan penyandang diabetes tipe 2. Jenis diabetes ini umumnya berkaitan dengan gaya hidup dan karena itu semakin sering dijumpai pada kelompok usia muda. Menurut Kelvin, diabetes tipe 2 dapat dicegah, bahkan dihentikan, melalui perubahan pola hidup, pola makan, serta aktivitas sehari-hari.
Ia menyarankan masyarakat mengurangi porsi karbohidrat dan tambahan gula dalam setiap makanan. Asupan protein perlu diperbanyak, sementara kebutuhan serat tetap dicukupi. Untuk camilan atau hidangan penutup, Kelvin menyarankan agar dikonsumsi setelah makanan utama supaya tidak berlebihan.
Remisi diabetes membutuhkan konsistensi
Anggapan bahwa penderita diabetes pasti harus mengonsumsi obat atau menggunakan suntik insulin seumur hidup, menurut Kelvin, tidak sepenuhnya tepat, terutama untuk diabetes tipe 2. Harapan untuk mengurangi atau lepas dari obat memiliki dasar ilmiah melalui konsep remisi diabetes yang diperkenalkan American Diabetes Association (ADA) sejak 2019.
Remisi diabetes terjadi ketika kadar gula darah kembali terkontrol dalam jangka waktu tertentu tanpa bantuan obat penurun gula darah. Salah satu indikatornya adalah HbA1c, pemeriksaan yang menggambarkan rata-rata kadar gula darah selama tiga bulan terakhir. Pasien dikategorikan mencapai remisi apabila HbA1c berada di bawah 6,5 persen secara konsisten selama sedikitnya tiga bulan tanpa obat penurun gula darah.
Untuk mendampingi pasien, Kelvin membangun mGanik dengan tiga pendekatan, yakni medikasi, nutrisi, dan monitoring. Penerapannya disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien, mulai dari pemantauan HbA1c, pengaturan pola makan, hingga pemantauan rutin.
Kelvin menekankan, perubahan tidak harus dilakukan secara besar-besaran, tetapi perlu dijalankan secara konsisten. “Jangan putus asa, karna pasti ada jalannya. Percaya aja harus kasih perubahan di pola makan, ikutin saran-saran dari dokternya. Dengan perubahan sedikit tapi konsisten itu pasti sangat bermanfaat,” kata dia.












