Masalah jerawat yang tidak kunjung membaik meski seseorang telah berganti-ganti produk perawatan kulit bisa berkaitan dengan kondisi mikroorganisme di permukaan kulit. Persoalan tersebut tidak selalu disebabkan oleh ketidakcocokan bahan aktif, tetapi juga dapat dipengaruhi ketidakseimbangan ekosistem mikrobioma kulit.
Regene Genomics memperkenalkan SkinSignal, layanan analisis mikrobioma kulit berbasis DNA yang dirancang untuk memberikan gambaran lebih personal mengenai kondisi ekosistem kulit seseorang. Dengan informasi tersebut, pengguna dapat memperoleh dasar yang lebih terarah dalam memahami kebutuhan perawatannya.
Menganalisis 14 mikroorganisme
SkinSignal bekerja dengan menganalisis 14 mikroorganisme dari sampel yang diperiksa. Data tersebut kemudian dikelompokkan ke dalam empat kategori yang disebut The Four Pillars. Keempatnya meliputi Barrier-supporting Group, Sebum-adapted Group, Pro-inflammatory Group, serta Fungal Indicator.
Barrier-supporting Group menggambarkan kelompok mikroorganisme yang berkaitan dengan dukungan terhadap pelindung kulit. Sebum-adapted Group berhubungan dengan mikroorganisme yang beradaptasi terhadap sebum, sedangkan Pro-inflammatory Group menunjukkan kelompok yang berkaitan dengan proses peradangan. Adapun Fungal Indicator digunakan sebagai salah satu bagian dari gambaran mikrobioma kulit berdasarkan sampel yang dianalisis.
Selain pengelompokan tersebut, SkinSignal menyertakan SkinSignal Barrier Index. Indeks ini dikembangkan untuk membantu membaca kekuatan pelindung alami kulit melalui ukuran yang dapat dianalisis.
Pendekatan perawatan yang lebih personal
CEO Regene Genomics Vichi Lestari mengatakan karakteristik kulit setiap orang berbeda, sehingga kebutuhan perawatannya tidak dapat selalu disamaratakan. Menurut dia, SkinSignal dibuat untuk membantu masyarakat memahami kondisi mikrobioma kulit melalui informasi yang berbasis data.
“Kami percaya bahwa setiap individu memiliki karakteristik kulit yang berbeda, sehingga pendekatan perawatannya pun tidak selalu dapat disamaratakan. Melalui SkinSignal, kami ingin membantu masyarakat mendapatkan perspektif yang lebih personal mengenai mikrobioma kulit melalui informasi berbasis data,” ujar Vichi dalam keterangan tertulis yang diterima Republika pada Rabu (23/9/2026).
Peluncuran SkinSignal memperluas kiprah Regene Genomics di bidang pemanfaatan data biologis untuk mendukung pendekatan kesehatan yang bersifat personal. Perusahaan healthtech tersebut sebelumnya telah memperkenalkan sejumlah tes DNA, antara lain Prim-O, Health-Y, Cance-R, Nutri-C, Derma-G, Kid-D, Promi-L, dan Emo-Q.
Regene Genomics menjelaskan, tes genomik dan analisis mikrobioma memberikan jenis informasi biologis yang berbeda. Tes genomik berfokus pada faktor genetik bawaan manusia, sementara SkinSignal melihat komunitas mikroorganisme yang hidup di tubuh. Kedua pendekatan itu disebut dapat saling melengkapi dalam memberikan gambaran biologis yang lebih menyeluruh.












