Kesehatan Mental Anak dan Remaja di Indonesia: Masalah yang Perlu Diperhatikan
Masalah kesehatan mental pada anak dan remaja masih menjadi isu serius di Indonesia. Berdasarkan Indonesia National Adolescent Mental Health Survey tahun 2022, sekitar 15,5 juta dari 46 juta remaja di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental. Artinya, satu dari tiga remaja di Indonesia menghadapi persoalan kesehatan mental.
Masalah Utama: Depresi dan Ancaman Bunuh Diri
Depresi menjadi gangguan kesehatan mental yang paling umum ditemukan di Indonesia. Data menunjukkan bahwa sekitar 2 persen anak dan remaja usia 15-24 tahun mengalami depresi. Hal yang lebih mengkhawatirkan, sebanyak 61 persen dari mereka bahkan memiliki pemikiran untuk bunuh diri dalam waktu satu bulan.
Pentingnya Peran Orang Tua
Dokter spesialis anak konsultan tumbuh kembang, Dr. Angga Wirahmadi, menyatakan bahwa depresi pada remaja merupakan darurat kesehatan mental. Menurutnya, depresi lebih sering terjadi pada remaja perempuan, tingkat pendidikan menengah, dan mereka yang tinggal di wilayah perkotaan.
Dr. Angga juga menekankan bahwa walaupun angka depresi cukup tinggi, hanya 10 persen dari populasi remaja yang mencari bantuan medis. Hal ini menunjukkan rendahnya kesadaran dan akses terhadap layanan kesehatan mental di masyarakat.
Orang tua perlu mengenali tanda-tanda depresi pada remaja, seperti minimnya keinginan untuk beraktivitas, merasa rendah diri, dan kesulitan tidur. Jika gejala tersebut muncul, konsultasikan dengan dokter untuk evaluasi lebih lanjut.
Selain depresi, orang tua juga harus waspada terhadap gangguan ansietas atau kecemasan pada remaja. Gejala kecemasan meliputi perilaku overthinking, menghindari hal yang tidak disukai, berkeringat, dan keluhan sakit perut.
Mengetahui bahwa gejala depresi dan kecemasan sering sulit dibedakan dengan gangguan lain, dr. Angga menyatakan pentingnya pengenalan dini oleh dokter anak dan tenaga kesehatan untuk mendeteksi gangguan kesehatan mental pada anak.
Sumber: Republika












