El Nino Meningkatkan Risiko DBD dan Malaria
Pasien demam berdarah dengue (DBD) dipasangkan infus saat menjalani perawatan di RSUD Taman Sari, Jakarta, Selasa (16/4/2024). Fenomena El Nino diprediksi akan terjadi pada Mei-Juni-Juli 2026. Risiko penyakit yang ditularkan melalui nyamuk seperti DBD dan malaria dikhawatirkan akan meningkat.
Kondisi Lingkungan Berpengaruh pada Penyebaran DBD
Ketua Satgas Kesehatan Lingkungan dan Perubahan Iklim Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Darmawan Budi Setyanto, mengungkapkan bahwa nyamuk Aedes aegypti, penyebar DBD, hidup di lingkungan air bersih. Saat terjadi krisis air bersih akibat kemarau panjang, masyarakat cenderung menyimpan air di berbagai wadah seperti ember atau bak. Hal ini menciptakan kondisi ideal bagi nyamuk untuk berkembang biak.
Menurut dr. Darmawan, kebiasaan menyimpan air dalam wadah terbuka saat kondisi kekeringan justru memudahkan nyamuk Aedes aegypti untuk bertelur. Situasi ini memicu peningkatan kasus DBD di masyarakat. Selain itu, suhu panas yang terjadi akibat El Nino mendorong nyamuk untuk mencari tempat tertutup seperti rumah penduduk, meningkatkan risiko kontak langsung dengan manusia.
Penanganan Pencegahan DBD dan Malaria
Telur nyamuk Aedes aegypti juga memiliki ketahanan yang tinggi dalam kondisi kering, dapat bertahan hingga berbulan-bulan. Oleh karena itu, penanganan pencegahan DBD dan malaria perlu dilakukan secara menyeluruh, termasuk penutupan rapat wadah penyimpanan air serta pengendalian nyamuk secara efektif.
Penting bagi masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan sekitar, mengurangi genangan air, dan menggunakan kelambu saat tidur untuk mengurangi risiko terkena gigitan nyamuk. Upaya pencegahan yang dilakukan secara bersama-sama akan dapat mengurangi penyebaran DBD dan malaria di tengah kondisi El Nino yang dapat meningkatkan risiko penyakit menular ini.












