Proses Pemulihan Trauma Korban Kecelakaan Kereta Api
Evakuasi gerbong KRL Commuterline yang mengalami kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat pada Selasa (28/4/2026) menyisakan 14 korban jiwa dan 84 korban luka. Setelah kejadian tragis ini, korban yang selamat perlu menjalani proses pemulihan, khususnya dari segi trauma psikologis.
Pendekatan Pemulihan Trauma
Menurut Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi., Psikolog dari Universitas Indonesia, korban kecelakaan kereta api yang mengalami trauma psikologis perlu menjalani proses pemulihan secara bertahap. Proses ini bertujuan agar korban dapat kembali beraktivitas tanpa terbebani oleh rasa takut yang berlebihan.
Salah satu pendekatan yang bisa dilakukan adalah melalui exposure yang dilakukan secara bertahap. Korban tidak langsung dihadapkan pada situasi yang memicu ketakutan, melainkan dimulai dari hal-hal sederhana seperti melihat gambar kereta atau mendengarkan suara kereta dari jarak tertentu.
Konsistensi dan Dukungan Lingkungan
Proses pemulihan trauma membutuhkan waktu, konsistensi, dan dukungan dari lingkungan sekitar. Korban tidak dianjurkan untuk memaksakan diri kembali ke situasi pemicu dalam waktu singkat karena dapat memperparah kondisi psikologis. Namun, menghindari sepenuhnya stimulus yang berkaitan dengan trauma juga dapat menghambat proses pemulihan.
Strategi pemulihan yang realistis dan dapat diterapkan secara bertahap menjadi kunci utama dalam membantu korban kecelakaan kereta api untuk tetap menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa mengabaikan kondisi kesehatan mental. Dengan waktu, konsistensi, dan dukungan yang memadai, diharapkan korban bisa kembali merasa aman dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Sumber: Antara












