Kasus campak pada anak kembali menjadi perhatian serius di Indonesia dengan peningkatan kasus hingga munculnya kejadian luar biasa (KLB) di sejumlah daerah sepanjang tahun 2025 hingga awal 2026. Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan adanya peningkatan kasus suspek campak sebanyak 63.769 kasus sepanjang tahun 2025 dengan 11.094 kasus terkonfirmasi dan 69 kematian. Sementara itu, hingga minggu ketujuh tahun 2026, terdapat 8.224 kasus suspek, 572 kasus terkonfirmasi, serta empat kematian. Terdapat juga 21 KLB suspek campak yang tercatat di 17 kabupaten/kota di 11 provinsi yang membuktikan bahwa campak masih merupakan penyakit yang sangat menular dan berpotensi menimbulkan komplikasi serius, khususnya pada anak.
Menurut dokter spesialis anak di Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr Venty, Sp A, CIMI, campak disebabkan oleh virus yang menyebar melalui droplet saat penderita batuk atau bersin. Virus tersebut dapat bertahan di udara atau permukaan benda dalam waktu tertentu sehingga meningkatkan risiko penularan. Gejala awal campak seringkali menyerupai flu, seperti demam tinggi, batuk, pilek, mata merah dan berair, bercak putih kecil di dalam mulut (bercak Koplik), diikuti ruam kulit dari wajah ke seluruh tubuh. Campak harus diperlakukan dengan serius karena dapat menimbulkan komplikasi serius seperti infeksi telinga, diare berat, pneumonia, hingga radang otak (ensefalitis), bahkan berujung kematian terutama pada anak yang belum diimunisasi atau memiliki daya tahan tubuh rendah.
Saat ini, belum ada obat antivirus khusus untuk campak. Penanganan yang diberikan lebih bersifat suportif dengan memastikan anak cukup istirahat, asupan gizi dan cairan terpenuhi, serta pemberian vitamin A sesuai usia. Orang tua diminta untuk membawa anak ke fasilitas kesehatan jika muncul tanda komplikasi seperti diare disertai dehidrasi, pneumonia, kejang, atau penurunan kesadaran. Pencegahan campak dapat dilakukan dengan perilaku hidup bersih dan sehat, vaksinasi, dan mengisolasi penderita selama masa penularan.
Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Margareth Aryani Santoso, MARS, menekankan pentingnya pencegahan dan penanganan campak dengan layanan kesehatan anak yang memadai. Masyarakat diimbau untuk lebih waspada terhadap gejala campak pada anak dan melakukan pemeriksaan sejak dini. Dengan peningkatan kewaspadaan, pola hidup sehat, dan imunisasi yang optimal, risiko penularan campak diharapkan dapat ditekan untuk menjaga kesehatan anak.












