Edward Andriyanto, seorang psikolog dari Universitas Indonesia, mengangkat permasalahan overthinking yang semakin sering dialami oleh mahasiswa. Menurutnya, kecenderungan untuk terlalu banyak berpikir ini bisa berkaitan dengan luka batin yang mungkin tak disadari yang berasal dari masa kecil. Dia menjelaskan bahwa setiap mahasiswa sudah membawa luka emosional sejak awal, dan tinggal seberapa dalam dampaknya saat luka tersebut tersentuh.
Luka emosional ini, menurut Edward, dapat terbentuk sejak usia dini, terutama jika pola asuhan yang diterima lebih banyak berupa kritik daripada apresiasi. Hal ini bisa memicu perasaan tidak cukup atau selalu dibanding-bandingkan dengan pencapaian orang lain, yang akhirnya menumpuk hingga masa kuliah.
Edward juga menyarankan agar mahasiswa mencoba praktik mindfulness atau kesadaran penuh dalam kehidupan sehari-hari. Dia menjelaskan bahwa mindfulness tidak harus dilakukan melalui aktivitas mahal, tetapi bisa dimulai dari hal-hal sederhana seperti fokus saat makan tanpa distraksi. Selain itu, pentingnya dukungan sosial juga ditekankan sebagai langkah pertama sebelum mencari bantuan profesional.
Dalam pengalaman pribadinya, Edward berbagi bahwa membantu orang lain dapat menjadi salah satu cara untuk mengatasi depresi. Keterlibatan sosial dan kepedulian terhadap orang di sekitar dapat membawa kebahagiaan yang nyata. Itulah sebabnya, ia mendorong generasi muda untuk lebih peka terhadap kondisi sekitarnya.
Out Loud Republika, sebuah acara talkshow dan healing experience dengan tema “Grow Through What You Go Through”, merupakan wadah bagi diskusi seputar kesehatan mental. Kolaborasi Republika dan BKM FISIP UI ini menghadirkan narasumber dan sesi konseling serta skrining kesehatan mental gratis sebagai upaya dalam memberikan pemahaman dan dukungan bagi yang membutuhkan.












