Demam berdarah dengue (DBD) di wilayah Jakarta Selatan kini telah mengalami pergeseran, dimana bukan hanya anak-anak yang rentan terpapar, tetapi juga remaja dan dewasa muda. Tingginya mobilitas kelompok usia ini, seperti sekolah, kampus, dan tempat nongkrong, diduga menjadi salah satu penyebab utama. Daya tahan tubuh yang kuat sering kali membuat mereka abai terhadap gejala awal, sehingga menunda penanganan medis yang diperlukan. Dalam data dari Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan, jumlah kasus tertinggi terjadi pada kelompok usia 12-25 tahun, diikuti oleh kelompok usia lainnya, kecuali kelompok lansia yang memiliki kasus yang lebih rendah. Meskipun begitu, potensi komplikasi yang tinggi tetap diperhatikan pada kelompok lansia yang rentan terinfeksi DBD.
Pada Januari 2026, kasus DBD didominasi oleh laki-laki dengan persentase 68 persen, sementara perempuan sebesar 32 persen. Sudinkes Jaksel telah menangani 38 kasus DBD pada bulan tersebut dengan berbagai upaya pencegahan, seperti pelibatan kader Jumantik, pengasapan di lingkungan sekolah dan pemukiman, serta sosialisasi kepada warga mengenai pencegahan DBD. Masyarakat diimbau untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala DBD. Selain itu, data menunjukkan penurunan kasus DBD di Jakarta Selatan pada tahun 2025 dibandingkan dengan tahun sebelumnya, menandakan pengendalian yang lebih baik terhadap penyakit ini.












