Puasa Dipaksakan: Dampak Mental Anak yang Berat

Puasa Ramadan adalah momen yang sakral bagi umat Islam, namun bagi anak-anak yang belum siap, pengenalan puasa dapat menimbulkan tekanan emosional yang berdampak pada kesehatan mental. Psikiater National Hospital Surabaya, dr. Aimee Nugroho, SpKJ, mengingatkan orang tua untuk memperhatikan tanda-tanda psikologis yang muncul pada anak yang belum siap menjalani puasa. Perubahan emosi seperti mudah marah, keluhan fisik tanpa sebab medis, kecemasan berlebihan, perilaku regresif, penurunan minat belajar, dan gangguan tidur perlu diwaspadai sebagai indikator tekanan psikologis pada anak. Menurut dr. Aimee, penting untuk membedakan antara disiplin sehat dan tekanan psikologis dalam mendampingi anak menjalani puasa. Disiplin sehat terlihat dari rasa tertantang tanpa takut, sedangkan tekanan psikologis tercermin dari ketakutan akan hukuman atau malu.

Dalam membantu anak memaknai puasa secara positif, dr. Aimee menyarankan agar pengenalan puasa dilakukan secara bertahap sesuai dengan kesiapan mental anak, bukan berdasarkan usia atau perbandingan dengan anak lain. Komunikasi empati, memberi ruang untuk mengekspresikan perasaan, dan penekanan pada proses belajar puasa adalah hal-hal yang dapat dilakukan orang tua untuk mendukung anak menjalani puasa dengan rasa aman dan memahami makna ibadah. Dengan pendekatan yang konsisten, anak dapat menjadikan pengalaman Ramadan sebagai kesempatan untuk tumbuh dan berkembang.

Source link