Peningkatan Kasus Nyeri Punggung Pada Usia Produktif
Perubahan pola kerja pascapandemi Covid-19 dikaitkan dengan lonjakan kasus nyeri punggung bawah pada kelompok usia 20-40 tahun. Data dari Low Back Pain Collaborators yang dipublikasikan di The Lancet menyebutkan bahwa LBP telah memengaruhi 619 juta orang di seluruh dunia, dan jumlahnya diprediksi akan mencapai 843 juta kasus pada 2050.
Dokter spesialis neurologi, dr. Yoga Rossi Widya Utama, menjelaskan bahwa kurangnya intensitas olahraga dan kebiasaan pola olahraga yang tidak sesuai menjadi penyebab utama nyeri punggung bawah. Posisi tubuh yang statis, seperti terlalu sering duduk atau berdiri, tanpa gerakan yang cukup berpotensi memicu masalah kesehatan ini. Selain itu, pertemuan daring dan aktivitas di dalam ruangan juga berkontribusi pada gaya hidup sedentari.
Selain faktor kurang bergerak, penyebab lain dari LBP termasuk postur tubuh yang buruk, gerakan berulang, dan aktivitas berat dengan teknik yang salah. Untuk mencegah nyeri punggung bawah, dr. Yoga merekomendasikan menjaga postur tubuh, melakukan peregangan, menggunakan furniture ergonomis, dan rutin melakukan aktivitas fisik ringan.
Gejala nyeri punggung bawah biasanya berupa sensasi nyeri di area punggung, kesulitan berdiri atau duduk lama, bahkan nyeri yang menjalar hingga ke kaki. Jika mengalami gejala tersebut, istirahat yang cukup, kompres dengan air hangat atau dingin, dan berkonsultasi dengan dokter adalah langkah awal yang disarankan. Jika gejala tidak membaik, pemakaian obat pereda nyeri atau sesi fisioterapi dapat menjadi solusi. Semua upaya ini penting untuk menjaga kesehatan tulang belakang dan mencegah nyeri punggung bawah pada usia produktif.












