Penurunan angka fertilitas di Indonesia memberikan perspektif baru terkait program Keluarga Berencana (KB) menurut Kepala Perwakilan United Nations Population Fund (UNFPA), Hassan Mohtashami. Menurutnya, tujuan hidup individu dan pasangan telah berubah akibat transformasi struktural dalam masyarakat, bukan hanya akibat program KB. Kontrasepsi menjadi alat penting bagi perempuan untuk mengambil keputusan tentang hidupnya, dan pembatasan akses terhadap kontrasepsi justru dapat menimbulkan masalah sosial. Indonesia memiliki bonus demografi dua dekade ke depan yang harus dimanfaatkan dengan kebijakan investasi sumber daya manusia dan persiapan menghadapi tantangan populasi menua di masa depan.
Veronica Tan, Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, menekankan pentingnya edukasi dan perencanaan keluarga dalam meningkatkan kualitas keluarga. Kontrasepsi tetap menjadi penting untuk memenuhi hak reproduksi perempuan, dan kolaborasi pemerintah akan membantu meningkatkan kualitas keluarga sebagai pondasi pembangunan sumber daya manusia di Indonesia. Menurut mereka, program Keluarga Berencana bukanlah satu-satunya faktor penentu penurunan angka kelahiran saat ini. Artinya, strategi wajib dari pemerintah adalah melibatkan keluarga dalam perencanaan keluarga untuk membangun masa depan yang lebih baik.












