Tips Mengelola Stres di Akhir Tahun: Cegah Burnout

Menjelang akhir tahun, risiko kelelahan mental dan fisik atau burnout kerap meningkat di kalangan pekerja maupun mahasiswa. Tekanan target kerja, tutup buku, hingga evaluasi akhir tahun menjadi faktor yang sering memicu munculnya keluhan psikologis. Pakar psikologi industri Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr Sumaryono, menjelaskan bahwa tidak semua kelelahan psikologis dapat langsung dikategorikan sebagai burnout. Dia menekankan pentingnya memahami perbedaan antara stres, burnout, dan depresi agar penanganannya tepat.

Sumaryono menjelaskan bahwa stres, burnout, dan depresi merupakan tiga kondisi yang berbeda. Burnout ditandai dengan kelelahan fisik, emosional, dan mental secara bersamaan, disertai perasaan tidak berdaya yang mendalam. Sementara stres masih, berkaitan dengan tekanan tertentu dan umumnya bersifat sementara. Untuk mencegah stres berkembang menjadi burnout, Sumaryono menekankan pentingnya peran mentor, baik dosen pembimbing akademik maupun atasan di tempat kerja. Pendampingan melalui pendekatan coaching dan komunikasi terbuka dinilai dapat membantu individu memahami tekanan yang dihadapi.

Pekerja menjelang akhir tahun menghadapi tuntutan tinggi seperti tenggat waktu dan target kinerja. Sementara mahasiswa, umumnya masih berada dalam beban akademik yang relatif normal sehingga lebih tepat disebut mengalami stres. Sebagai strategi pengelolaan stres di akhir tahun, Sumaryono membagikan metode CHANGE. Metode ini meliputi Challenge yang melihat hidup sebagai tantangan, Hope untuk menjaga harapan, Adaptation melalui pengelolaan stres dan penetapan prioritas, Network dengan membangun jejaring dan meminta pandangan mentor, hingga mencapai fase Growth dan Excellence. Dia menegaskan bahwa stres tidak boleh diremehkan, tetapi juga tidak perlu dibesar-besarkan. Dengan pemahaman yang tepat, stres justru dapat menjadi energi pendorong untuk tetap produktif di momen akhir tahun.

Source link