Masalah kesehatan psikis pada lansia sering kali terlupakan, namun memiliki dampak serius seperti penurunan fisik. Komunikasi empatik menjadi kunci dalam merawat lansia. Program Sapa Lansia oleh Magister Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina memberikan pelatihan kepada kader posyandu untuk meningkatkan kemampuan komunikasi empatik dalam merawat lansia di Jakarta Selatan. Melalui Sapa Lansia, para kader dilengkapi dengan keterampilan untuk membangun hubungan yang hangat dan penuh pengertian dengan lansia, sehingga mereka merasa dihargai dan tidak kesepian.
Dalam program tersebut, 37 peserta termasuk kader posyandu dan lansia dilibatkan dalam sesi praktik untuk menangani tantangan kesehatan fisik dan kebutuhan akan komunikasi empatik bagi lansia. Ketua Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina, Juni Alfiah Chusjairi Ph.D, menunjukkan bahwa kegiatan ini sebagai bentuk pengabdian masyarakat mahasiswa dalam membantu lansia. Dosen Pengampu, Dr. Rini Sudarmanti, menekankan pentingnya komunikasi empatik dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi kader posyandu yang berinteraksi langsung dengan lansia.
Pelatihan terdiri dari dua sesi, dimana sesi pertama berfokus pada gerakan fisik sederhana untuk meningkatkan kesehatan fisik lansia. Sedangkan sesi kedua membahas kompetensi komunikasi empati, termasuk teknik mendengarkan aktif dan interaksi hangat dengan lansia. Universitas Paramadina juga menyusun buku saku “Sapa Lansia: Seni Berkomunikasi dengan Lansia” sebagai luaran berkelanjutan dari program ini untuk membantu kader posyandu dan keluarga lansia dalam merawat mereka.












