Kekurangan Vitamin D pada Anak: Ancaman Serius yang Perlu Diwaspadai
Meskipun Indonesia memiliki berlimpah sinar matahari, risiko defisiensi Vitamin D pada anak-anak masih cukup tinggi. Menurut dr Caesar Pronocitro, seorang dokter spesialis anak, masalah kekurangan Vitamin D bukanlah hal yang sepele. Kondisi ini dapat menjadi krisis tersembunyi yang berdampak serius pada kesehatan generasi muda.
Gejala defisiensi Vitamin D pada anak seringkali tidak spesifik dan dapat mengancam berbagai aspek penting dalam tubuh, mulai dari struktur fisik hingga kemampuan berpikir. Saat lahir, bayi hanya menerima sebagian kecil simpanan vitamin D dari ibu, dan jika ibu mengalami defisiensi Vitamin D, maka asupan untuk anak juga akan berkurang.
Bayi usia 0-6 bulan merupakan kelompok yang paling rentan mengalami kekurangan Vitamin D karena asupan mereka masih terbatas pada ASI eksklusif. Meskipun sinar matahari penting untuk sintesis Vitamin D, paparan sinar matahari pada bayi perlu dibatasi karena kulit mereka yang masih tipis berisiko mengalami dehidrasi dan iritasi.
Caesar menjelaskan bahwa defisiensi Vitamin D pada anak dapat memicu masalah kesehatan seperti stunting, obesitas, autisme, alergi, dermatitis atopik, dan penyakit tulang lunak. Oleh karena itu, perhatian terhadap asupan Vitamin D pada anak perlu diperhatikan secara serius demi mencegah masalah kesehatan yang lebih serius di masa depan.












