Manfaat Magnesium untuk Tidur: Benarkah Lebih Nyenyak?

Klaim bahwa konsumsi suplemen magnesium sebelum tidur dapat membuat tidur lebih nyenyak belum dapat diterima sebagai kepastian. Magnesium memang terlibat dalam sejumlah proses tubuh yang berkaitan dengan tidur, tetapi mineral ini tidak bekerja seperti obat tidur dan tidak otomatis membuat seseorang mengantuk.

Dokter sekaligus dosen IPB University, dr. Yunita Aryani, mengatakan magnesium membantu mengatur aktivitas saraf, merelaksasi otot, serta mendukung ritme tidur-bangun. Namun, ia menegaskan magnesium bukan satu-satunya mineral yang berperan dalam menjaga kualitas tidur.

Berperan dalam mekanisme tidur

Menurut Yunita, asupan magnesium yang lebih tinggi memiliki hubungan dengan kualitas tidur yang lebih baik. Asupan tersebut juga dikaitkan dengan kemungkinan lebih rendah mengalami durasi tidur yang pendek. Meski demikian, hubungan itu belum membuktikan bahwa konsumsi magnesium secara langsung menyebabkan kualitas tidur membaik.

Di dalam tubuh, magnesium membantu menstabilkan aktivitas saraf dan mengurangi rangsangan berlebihan pada jalur glutamat atau NMDA. Glutamat merupakan asam amino yang berfungsi sebagai bahan kimia pemicu aktivitas di otak.

Mineral tersebut juga mendukung kerja gamma-aminobutyric acid atau GABA. Neurotransmiter ini berperan menghambat aktivitas sistem saraf sehingga membantu otak berada dalam kondisi yang lebih tenang. Selain itu, magnesium terlibat dalam pengaturan kalsium dan kalium, serta mendukung ritme sirkadian dan jalur melatonin yang berkaitan dengan pengaturan tidur.

“Magnesium membantu mengatur aktivitas saraf, relaksasi otot, serta ritme tidur-bangun. Tetapi magnesium bukan satu-satunya mineral yang mendukung kualitas tidur,” kata Yunita dalam keterangan tertulis, dikutip pada Selasa (29/9/2026).

Karena fungsi tersebut, Yunita menilai penyebutan magnesium sebagai obat tidur atau zat yang membuat mengantuk tidak tepat. “Jadi sangat tidak tepat jika magnesium dikatakan sebagai obat tidur atau membuat mengantuk,” ujarnya.

Sulit tidur tidak selalu karena kekurangan magnesium

Yunita juga mengingatkan, sulit tidur atau sering terbangun pada malam hari tidak serta-merta menandakan tubuh kekurangan magnesium. Gangguan tidur dapat berkaitan dengan kondisi lain, salah satunya hyperarousal.

Hyperarousal terjadi ketika tubuh sebenarnya sudah merasa lelah, tetapi otak dan sistem saraf masih dalam keadaan aktif. Dalam kondisi itu, mekanisme tubuh untuk memasuki fase tidur tidak dapat bekerja secara optimal. Penjelasan ini membuat hubungan antara konsumsi magnesium dan kualitas tidur perlu dipahami secara hati-hati, terutama karena bukti yang tersedia belum menunjukkan hubungan sebab-akibat secara langsung.

Source link