Asap Karhutla Mengintai Kesehatan Masyarakat
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mewarnai berbagai daerah di Indonesia. Data dari Kementerian Kesehatan mencatat bahwa karhutla telah menyebar ke 87 kabupaten/kota di tujuh provinsi, yakni Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Dari total tersebut, sekitar 3 juta jiwa di 37 kabupaten/kota langsung terpapar oleh kabut asap.
Implikasi Kesehatan Akibat Paparan Asap
Dokter spesialis anestesiologi dan terapi intensif, dr. Nova Maryani dari UMY, menjelaskan bahwa dampak asap karhutla sangat tergantung pada berapa lama dan seberapa tinggi tingkat paparannya. Paparan asap hanya dalam beberapa hari saja sudah bisa memicu masalah pernapasan, bahkan pada individu yang sehat sekalipun. Lebih lanjut, jika paparan berlangsung hingga berminggu-minggu, dampaknya akan semakin luas dan bisa memicu lonjakan pasien yang memerlukan perawatan.
Partikel-partikel kecil yang terkandung dalam asap karhutla, termasuk partikulat halus dan gas beracun seperti karbon monoksida (CO), turut menjadi ancaman serius bagi kesehatan. CO lebih mudah terikat dengan hemoglobin darah daripada oksigen, sehingga menyebabkan penurunan suplai oksigen ke seluruh tubuh. Akibatnya, organ vital selain paru-paru pun dapat terganggu fungsi normalnya.
Penyuluhan dan Pencegahan
Masyarakat diimbau untuk segera mencari perawatan medis jika mengalami gejala berat akibat paparan asap, seperti sesak napas parah, batuk berdarah, kesulitan beraktivitas, atau perubahan warna bibir menjadi kebiruan. Selain melindungi diri dengan masker, dr. Nova juga menyarankan agar aktivitas di luar rumah dikurangi, jendela ditutup saat asap pekat, dan menggunakan air purifier dengan filter HEPA bila memungkinkan.












