Beauty Burnout: Ketika Rangkaian Perawatan Kulit Jadi Beban
Perawatan kulit atau skincare seharusnya menjadi momen self-care yang menyenangkan. Namun, bagi sebagian Gen Z, rutinitas perawatan ini malah berubah menjadi beban baru. Mereka harus menjalani rangkaian skincare yang panjang, bahkan mencapai 10 hingga 12 langkah. Mulai dari toner, ampoule, essence, serum, moisturizer, dan sebagainya.
Konsultasi dengan Dokter Spesialis Kulit
Dokter spesialis kulit, dr. Noopur Jain, memberikan peringatan bahwa rutinitas skincare berlapis ini berpotensi menyebabkan terjadinya beauty burnout. Beauty burnout adalah kelelahan yang timbul ketika perawatan kulit dianggap seperti sebuah proyek atau lomba, bukan sekadar menjaga kesehatan kulit.
Menurut dr. Jain, banyak pasien muda yang datang untuk konsultasi bukan karena masalah kulit tertentu, melainkan karena merasa lelah dengan rutinitas skincare yang rumit. Mereka lelah harus mengingat urutan 10 hingga 12 langkah perawatan, serum mana yang harus digunakan sebelum essence, dan perasaan gagal jika melewatkan satu langkah pun.
Pengaruh Media Sosial terhadap Beauty Burnout
Beauty burnout ini juga dipengaruhi oleh konten di media sosial. Generasi Z tumbuh dalam lingkungan media sosial yang terus menampilkan standar kecantikan dan rutinitas perawatan kulit yang kompleks. Hal ini membuat pemakaian produk skincare yang berlebihan menjadi sesuatu yang dianggap wajar, bahkan menjadi standar yang harus diikuti.
Meskipun demikian, menurut dr. Jain, kebutuhan kulit sebenarnya tidak bergantung pada jumlah produk yang digunakan. Kulit hanya memerlukan konsistensi, beberapa bahan aktif yang sesuai dengan kondisinya, dan waktu untuk melakukan regenerasi.












