Mengupas Katarak: Dari Kendala Penglihatan hingga Gerakan Kemanusiaan
Banyak dari kita mungkin menganggap melihat matahari terbit atau mengenali wajah orang terkasih sebagai hal biasa. Namun, bagi jutaan orang dengan katarak, momen-momen sederhana tersebut adalah kemewahan yang mulai memudar. Di Indonesia, katarak masih menjadi masalah serius, terutama bagi kelompok lanjut usia.
Kegelapan yang Merenggut Kemandirian
Katarak adalah kondisi di mana lensa mata menjadi keruh, menghalangi cahaya masuk dengan optimal dan mengubah panorama visual seseorang secara drastis. Mulai dari penglihatan buram hingga warna-warna yang pudar, katarak juga membawa dampak psikologis yang signifikan. Kehilangan kemampuan melihat dapat mengurangi produktivitas, rasa percaya diri, dan interaksi sosial seseorang.
Menurut survei yang dilakukan oleh PERDAMI dan Kementerian Kesehatan pada 2014-2016, katarak merupakan penyebab utama kebutaan di Indonesia, menyumbang sekitar 81,2 persen dari total kasus kebutaan pada populasi 50 tahun ke atas. Hal ini menunjukkan bahwa katarak bukan sekadar masalah medis, tetapi juga berkaitan erat dengan kualitas hidup dan kemandirian seseorang.
Bulan Bakti PERDAMI 2026: Satu Hari Sejuta Harapan
Menyadari urgensi masalah katarak ini, gerakan Bulan Bakti PERDAMI 2026 telah diluncurkan. Dengan semangat “Satu Hari Sejuta Harapan untuk Indonesia Kembali Melihat, One Doctor One Sight,” gerakan ini bertujuan untuk membuka akses layanan kesehatan mata bagi masyarakat yang membutuhkan.
Salah satu langkah nyata dalam gerakan ini adalah penyediaan layanan operasi katarak gratis bagi masyarakat melalui Klinik Utama Mata JEC ANWARI @ Purwokerto. Sebagai bagian dari JEC Eye Hospitals and Clinics, klinik ini memberikan layanan komprehensif mulai dari skrining hingga pemulihan pascaoperasi, dengan standar kesehatan yang tinggi untuk memastikan keberhasilan setiap kasus.












