Bahaya Pangan Tidak Aman: Ancaman Kesehatan Global yang Mematikan
Ancaman Kesehatan Global WHO
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan peringatan keras terkait bahaya pangan tidak aman yang terus menjadi ancaman serius bagi kesehatan global. Menurut laporan terbaru yang dirilis pada 7 Juni 2026, pangan yang terkontaminasi bakteri, virus, parasit, atau zat kimia berbahaya telah menyebabkan sekitar 866 juta kasus penyakit dan 1,5 juta kematian setiap tahun di seluruh dunia.
WHO menegaskan bahwa kelompok yang paling rentan terhadap bahaya pangan tidak aman adalah anak-anak di bawah lima tahun. Meskipun hanya mencakup sekitar 9 persen dari populasi global, namun mereka menanggung hampir sepertiga dari seluruh kasus keracunan makanan. Balita ini menghadapi risiko hampir tiga kali lebih tinggi mengalami penyakit akibat pangan tidak aman dibandingkan dengan kelompok usia lainnya.
Dampak dan Risiko
Penyakit diare menjadi salah satu dampak paling umum yang dialami anak-anak akibat konsumsi pangan yang terkontaminasi. Selain itu, paparan zat kimia berbahaya dalam makanan seperti metilmerkuri dan timbal dapat mengganggu perkembangan otak serta menimbulkan gangguan neurologis dan perkembangan yang berlangsung seumur hidup.
Direktur Jenderal WHO, Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, menegaskan bahwa keamanan pangan bukanlah isu sepele. Makanan yang tidak aman sudah lama menjadi masalah kesehatan masyarakat global dan memerlukan perhatian serius. Menurutnya, pemerintah perlu mengambil tindakan konkrit untuk melindungi kesehatan masyarakat dari ancaman ini.
Saat ini, negara-negara memiliki data tersendiri untuk melihat di mana beban masalah pangan tidak aman paling tinggi. Dengan informasi tersebut, diharapkan pemerintah dapat mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga kesehatan masyarakat mereka dari risiko pangan tidak aman.












