Dolar AS Melemah Setelah Laporan Kesepakatan Gencatan Senjata AS-Iran
NILAI tukar dolar Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan terhadap seluruh mata uang utama setelah munculnya laporan kesepakatan awal antara AS dan Iran untuk memperpanjang gencatan senjata. Langkah diplomatis ini kini menunggu persetujuan akhir dari Presiden Donald Trump.
Berdasarkan data perdagangan di New York pada Kamis (28/5), Bloomberg Dollar Spot Index mengalami pelemahan 0,2%. Penurunan ini membalikkan penguatan sebelumnya akibat bentrokan semalam.
Mata Uang Sensitif Terhadap Risiko Memimpin Penguatan
Mata uang yang sensitif terhadap risiko, seperti krona Swedia dan dolar Selandia Baru, memimpin penguatan di antara mata uang negara G-10. Sementara itu, euro berhasil menguat dan diperdagangkan di atas level US$1,1650.
Detail Kesepakatan MoU 60 Hari
Laporan dari Axios mengungkapkan bahwa nota kesepahaman (MOU) antara AS dan Iran mencakup perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari. Kesepakatan ini membuka jalan bagi negosiasi masa depan mengenai program nuklir Iran serta menjamin pengiriman tanpa hambatan melalui Selat Hormuz.
Iran diwajibkan untuk memastikan tidak ada gangguan di Selat Hormuz, termasuk pembersihan ranjau dalam 30 hari sesuai dengan draf yang dikutip dari sumber terpercaya.
Sentimen Inflasi dan Sikap Pasar
Sebelum laporan tentang Iran, dolar sudah di bawah tekanan setelah data inflasi utama AS dirilis. Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) bulan April naik 0,4% secara bulanan, sedikit di bawah estimasi ekonom.
Meskipun pasar merespons positif dengan kabar damai ini, pelaku pasar tetap waspada dan menunggu bukti konkret dari kesepakatan berkelanjutan untuk menentukan arah pergerakan dolar ke depan.
“Kita belum pasti keluar dari zona bahaya karena perlu persetujuan akhir dari Trump,” kata Andrew Hazlett, pedagang valuta asing di Monex Inc. Pasar harus menunggu persetujuan resmi sebelum merayakan terlalu dini.












