Ikan Sapu-Sapu: Bahaya Logam Berat dan Penyematan dalam Makanan
Operasi pembersihan yang dilakukan di Kali Cideng Plaza Indonesia oleh Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) Jakarta berhasil menangkap ikan sapu-sapu. Tindakan ini dilakukan untuk menekan populasinya yang dinilai mengganggu ekosistem perairan Jakarta.
Logam Berat dalam Ikan Sapu-Sapu
Menurut peneliti Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Triyanto, ikan sapu-sapu yang hidup di ekosistem air tawar di Indonesia mengandung logam berat yang berbahaya jika dikonsumsi dalam jumlah berlebihan. Dampak negatif logam berat pada ikan sapu-sapu baru akan terasa pada manusia jika dikonsumsi hingga delapan kilogram daging ikan sapu-sapu per minggu dalam jangka waktu yang panjang.
Triyanto meminta masyarakat untuk mewaspadai konsumsi daging ikan sapu-sapu dalam makanan olahan seperti siomai. Ia menyarankan masyarakat untuk bertanya langsung kepada penjual mengenai keamanan daging ikan yang digunakan.
Bioakumulasi Logam Berat
Triyanto menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu, meskipun mengandung protein, karbohidrat, dan lemak yang diperlukan manusia, cenderung sulit untuk dipastikan bersih. Ikan ini memiliki sifat alami yang membuatnya menyerap segala hal, termasuk logam berat.
Logam berat yang terdapat dalam ikan sapu-sapu tidak akan dikeluarkan melalui proses feses, melainkan akan masuk ke dalam hati melalui saluran pencernaan dan kemudian terakumulasi dalam daging. Proses bioakumulasi ini membuat kandungan logam berat tetap tinggi dalam tubuh ikan.
Dalam kesimpulannya, Triyanto menekankan pentingnya kesadaran masyarakat terhadap konsumsi ikan sapu-sapu dan makanan olahan yang mengandung ikan tersebut. Langkah pencegahan seperti bertanya langsung kepada penjual merupakan upaya untuk menjaga kesehatan dan keselamatan konsumen dari potensi bahaya logam berat dalam ikan sapu-sapu.












