Minuman Kekinian Tinggi Gula: Tantangan Penerapan Nutri

Penerapan label gizi Nutri Level pada pangan siap saji, terutama minuman berpemanis, menghadapi tantangan yang signifikan tanpa didukung oleh edukasi dan strategi pendukung yang tepat. Prof Nuri Andarwulan dari IPB University menemukan bahwa sebagian besar minuman siap saji yang beredar memiliki kandungan gula yang tinggi. Dari 100 sampel minuman yang diperiksa di Jakarta dan Bogor, hanya tiga minuman memenuhi kriteria kategori A dan B dengan kadar gula rendah, sementara sisanya berada dalam kategori C dan D, melebihi batas asupan gula harian yang direkomendasikan.
Menurut Prof Nuri, penerapan Nutri Level pada skala luas mungkin akan menghasilkan mayoritas produk dengan label kategori C dan D, yang berdampak besar pada pelaku usaha. Untuk menghadapi kebijakan ini, pelaku usaha harus dilibatkan dalam program reformulasi produk agar kadar gula dapat diturunkan secara bertahap. Salah satu tantangan lain adalah potensi penggunaan pemanis buatan sebagai alternatif, namun hal ini tidak selalu menghasilkan hasil terbaik menurut Nutri Level.
Regulasi yang tidak selaras antar lembaga juga menjadi masalah, dengan BPOM mengawasi minuman kemasan dan Kementerian Kesehatan bertanggung jawab atas produk di kafe dan restoran. Ketidaksesuaian aturan dapat mempersulit implementasi kebijakan. Pengetahuan dan penerimaan konsumen terhadap label juga menjadi tantangan, karena jika mayoritas produk diberi label C dan D, konsumen mungkin kebingungan atau mengabaikan informasi tersebut. Oleh karena itu, edukasi yang efektif dan strategi lain seperti reformulasi pangan, program intervensi gizi, dan kebijakan fiskal harus mendampingi pelabelan Nutri Level. Penting untuk melaksanakan implementasi secara bertahap, memberikan insentif kepada industri, dan tetap berpegang pada bukti ilmiah yang ada untuk mendukung kesehatan masyarakat.

Source link