Dalam beberapa tahun terakhir, jagat media sosial dipenuhi dengan estetika studio pilates yang menampilkan alat reformer futuristik. Unggahan para instruktur dan pesohor sering kali menjanjikan hasil yang menggiurkan seperti perut rata, bokong kencang, dan lengan berotot. Hal ini sejalan dengan pergeseran tren kecantikan dari “kurus” menjadi “kuat”, yang membuat banyak orang tertarik untuk mengikuti kelas pilates dengan harapan mendapatkan massa otot yang signifikan.
Namun, penting untuk memahami bahwa ada berbagai metode pilates dengan tingkat intensitas berbeda. Metode yang dirancang oleh Joseph Pilates satu abad yang lalu telah berkembang menjadi variasi, mulai dari klasik hingga kontemporer. Menurut fisioterapis dan instruktur pilates bersertifikat, Rachel Miller, PT, DPT, kunci dari metode ini adalah presisi. Latihan dalam pilates dilakukan secara perlahan dengan jumlah repetisi yang sedikit untuk memfokuskan pada kualitas gerakan.
Gerakan lambat dalam pilates cenderung melatih serat otot tipe 1 atau slow-twitch yang bertanggung jawab atas daya tahan tubuh. Menurut fisioterapis dan pelatih kebugaran, Shannon Ritchey, PT, DPT, latihan ini menargetkan serat otot kecil yang meningkatkan daya tahan otot. Daya tahan otot, terutama dalam pilates, melibatkan kemampuan untuk menahan posisi lebih lama, yang pada akhirnya meningkatkan stamina tubuh. Jadi, meskipun pilates tidak melibatkan pengangkatan berat, latihan ini tetap dapat membantu memperkuat dan membentuk otot tubuh dengan baik.












