Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati saat menyentuh bayi dan anak-anak selama musim libur Lebaran agar tidak menularkan campak yang masih menjadi masalah kesehatan. Data terbaru Kemenkes mencatat adanya peningkatan kasus campak hingga pekan ke-8 tahun 2026, dengan total 10.453 suspek campak, 8.372 kasus, dan enam kematian. Hal ini menimbulkan kekhawatiran di 29 kabupaten/kota di 11 provinsi di Indonesia.
Dokter spesialis penyakit dalam, dr Kasim Rasjidi, mengungkapkan bahwa infeksi campak membutuhkan perhatian khusus karena gejala awalnya seringkali sulit dikenali dan mirip dengan penyakit lain seperti batuk pilek, DBD, atau cacar air. Virus campak juga sangat mudah menular, bahkan sebelum munculnya ruam kulit, yang membuat penularannya bisa terjadi tanpa disadari. Anak-anak termasuk rentan terhadap campak karena sistem kekebalan tubuh mereka masih dalam tahap perkembangan, terutama jika belum mendapatkan imunisasi secara optimal.
Penularan virus campak dapat dengan cepat melalui udara dalam bentuk droplet, sehingga dr Kasim menyarankan agar orang tua melakukan isolasi mandiri terhadap anak yang terkena campak di rumah. Hal ini penting untuk memastikan kecukupan cairan tubuh dan memantau kondisi anak secara rutin untuk mengurangi risiko penularan dan mempercepat kesembuhan. Tindakan pencegahan yang dianjurkan oleh Kemenkes perlu diikuti secara ketat untuk melindungi diri dan keluarga dari penularan campak yang berkembang di masyarakat.












