Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) merupakan gangguan perkembangan saraf yang dapat memengaruhi fungsi akademik, sosial, hingga kinerja seseorang di dunia kerja. Psikiater dari IPB University, dr Riati Sri Hartini, menjelaskan bahwa penderita ADHD cenderung memiliki kesulitan memusatkan perhatian, mudah terdistraksi, gelisah, sulit diam, dan perilaku impulsif. Gejala ini dapat mengganggu fungsi sosial, prestasi akademik, dan kinerja pekerjaan seseorang.
Penting untuk segera berkonsultasi ke dokter jika gejala ADHD muncul sejak sebelum usia 12 tahun dan berlangsung terus-menerus selama enam bulan atau lebih. Hal ini juga penting apabila gejala ADHD terlihat di lebih dari satu lingkungan. Tidak hanya berdampak pada prestasi akademik dan kinerja profesional, ADHD juga dapat mempengaruhi motivasi dan ketekunan dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Penanganan ADHD dilakukan secara multimodal dengan terapi obat dan non-obat. Terapi perilaku dan terapi kognitif-perilaku (CT) dapat membantu melatih regulasi diri, emosi, serta fungsi eksekutif. Selain itu, penggunaan obat seperti metilfenidat atau atomoksetin juga dianjurkan untuk membantu meningkatkan fokus dan mengontrol impulsivitas. Modifikasi lingkungan, dukungan keluarga, dan gaya hidup sehat juga turut berperan penting dalam membantu menstabilkan gejala ADHD.
Diagnosis ADHD harus dilakukan oleh tenaga profesional dengan kriteria yang jelas dan menyeluruh. Maka, pemahaman gejala ADHD, penanganan yang tepat, dan dukungan yang diberikan dapat membantu mencegah dampak jangka panjang dari gangguan ini.












