Energi panas bumi yang dikelola oleh PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) dipandang berpotensi sebagai sumber listrik bersih yang berperan sebagai karakter baseload, menjaga keandalan sistem kelistrikan, dan mendukung peningkatan bauran energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia. Dengan pipeline ekspansi yang jelas, PGE memiliki target pengembangan kapasitas menuju 1 gigawatt (GW) dan produksi 5,5-6,0 gigawatt hour (GWh) pada tahun 2028. Analis pasar modal dari Bahana Sekuritas, Jeremy Mikael, menilai bahwa PGE memiliki potensi pertumbuhan yang terukur dengan karakteristik bisnis yang stabil dan pertumbuhan pendapatan yang konsisten.
Menyasar investor yang tertarik dalam sektor energi hijau, PGE sedang menuju untuk menjadi 1 GW company dengan pengembangan proyek strategis. Proyeksi pencapaian kapasitas hingga 1 GW pada tahun 2028 dapat meningkatkan total produksi listrik menjadi sekitar 5,5-6,0 GWh. Dari sisi fundamental, neraca keuangan PGE dinilai cukup sehat dengan potensi pertumbuhan laba yang stabil. Selain itu, prospek sektor EBT di Indonesia semakin menguat dengan target pemerintah untuk meningkatkan kontribusi listrik dari EBT pada tahun 2034.
Pergerakan saham sektor EBT juga menunjukkan minat investor yang semakin meningkat. Untuk PGE, meskipun sahamnya mengalami fase koreksi setelah kenaikan pada tahun 2025, prospek jangka menengah masih tetap menarik. Sinergi antarpemangku kepentingan, termasuk peran Danantara dalam mendukung kerja sama antara PGE dan PLN serta anak usaha PLN Indonesia Power, dianggap sebagai faktor penting dalam eksekusi proyek ke depan. Kolaborasi ini mencakup pengembangan 19 proyek panas bumi dengan potensi kapasitas tambahan hingga 530 megawatt (MW). Secara keseluruhan, PGE dipandang memiliki prospek yang menjanjikan dalam menghadapi tantangan dan mendorong pertumbuhan sektor energi baru terbarukan di Indonesia.












