Sejumlah pengguna Android di seluruh dunia masih menggunakan Android 13 atau versi yang lebih lama, yang disorot sebagai perhatian serius mengingat peluncurannya telah sejak tahun 2022. Data dari StatCounter mengungkapkan bahwa lebih dari sepertiga pengguna Android masih beroperasi tanpa perlindungan keamanan terbaru dari Google. Selain keterlambatan pembaruan fitur, masalah ini dapat memperkuat ancaman keamanan siber terhadap perangkat yang sudah usang. Data dari Zimperium menunjukkan bahwa lebih dari setengah perangkat mobile di dunia masih menjalankan sistem operasi yang usang setiap tahunnya.
Sebagai contoh, pembaruan keamanan Android bulan Desember lalu menutup 107 celah keamanan, termasuk yang memiliki risiko tinggi. Namun, bagi pengguna perangkat yang sudah tidak didukung, celah tersebut tetap terbuka dan membuat perangkat mereka rentan terhadap serangan peretas. Di sisi lain, ekosistem Apple menunjukkan tingkat pembaruan perangkat yang jauh lebih tinggi, dengan sekitar 90 persen iPhone yang masih mendapatkan pembaruan resmi. Pembagian Android yang sangat fragmentasi mempersulit proses distribusi pembaruan, karena berbagai produsen menggunakan Android dengan chipset dan antarmuka yang berbeda.
Dampak dari kehilangan dukungan perangkat lunak adalah risiko serius terhadap keamanan digital pengguna Android. Dalam situasi di mana kerentanan terungkap namun pembaruan tidak merata, para penjahat siber bisa mengeksploitasi jutaan perangkat yang rentan. Oleh karena itu, bagi pengguna Android dengan perangkat yang sudah tidak lagi mendapatkan pembaruan keamanan, mengganti perangkat saat ini mungkin merupakan langkah investasi penting untuk melindungi keamanan data dan privasi dalam jangka panjang.












