Jerawat bukan hanya sekadar masalah kulit biasa bagi remaja. Menurut dokter kulit, kondisi kulit berjerawat dapat memengaruhi citra diri dan kesehatan mental remaja, bahkan bisa memicu depresi. Dr. Akriti Gupta menjelaskan bahwa remaja seringkali meremehkan jerawat sebagai masalah kulit biasa, namun beban emosional yang ditimbulkannya bisa sangat berat. Banyak remaja yang datang untuk mengobati jerawat bukan hanya karena masalah fisik, tetapi juga karena jerawat mulai mempengaruhi cara mereka melihat diri sendiri.
Pada masa remaja, identitas dan kepercayaan diri sedang dalam proses pembentukan. Penampilan fisik memainkan peran penting dalam pandangan diri remaja. Oleh karena itu, jerawat seringkali membuat mereka menarik diri dari aktivitas sosial dan merasa minder. Dampak emosional lainnya termasuk perubahan mood, mudah tersinggung, kehilangan minat pada hobi, dan terobsesi dengan penampilan di media sosial. Menurut dr. Gupta, orang tua perlu memperhatikan tanda-tanda ini karena seringkali merupakan tanda kecemasan.
Jerawat dan depresi memiliki hubungan saling memengaruhi. Jerawat dapat memicu depresi, dan sebaliknya, depresi dapat memperparah jerawat melalui perubahan hormon, kurang tidur, dan peradangan akibat stres. Hal ini menciptakan lingkaran setan di mana stres dapat memicu jerawat, sementara jerawat juga dapat memperdalam stres yang dirasakan oleh remaja. Oleh karena itu, penting bagi remaja dan orang tua untuk memahami bahwa jerawat bukan hanya masalah kulit biasa, tetapi juga dapat berdampak serius pada kesehatan mental.












