Polusi udara yang buruk tidak hanya memiliki dampak negatif pada paru-paru, tetapi juga berisiko serius bagi anak-anak yang memiliki kelainan jantung bawaan. Dr. Vikas Kohli, seorang spesialis jantung, menjelaskan bahwa anak-anak dengan gangguan jantung lebih rentan terhadap efek polusi udara karena jantung mereka sudah bekerja dengan beban lebih berat. Partikel PM2.5 yang terdapat dalam udara dapat memicu peradangan dan mengganggu aliran darah, mengakibatkan penurunan suplai oksigen ke tubuh.
Anak-anak yang sehat mungkin bisa menyesuaikan diri terhadap stres lingkungan, namun tidak demikian halnya dengan anak-anak yang memiliki masalah jantung. Oleh karena itu, dr. Kohli memberikan beberapa tips untuk melindungi anak-anak dengan gangguan jantung dari dampak polusi udara.
Pertama, orang tua disarankan untuk memantau kualitas udara secara rutin melalui aplikasi atau situs terpercaya yang menyediakan Air Quality Index (AQI). Jika kualitas udara berada dalam kategori buruk, sebaiknya anak tetap berada di dalam rumah. Polusi udara cenderung lebih tinggi pada pagi dan sore hari, sehingga penyesuaian jadwal aktivitas sangat penting untuk meminimalkan paparan polusi.
Kedua, rumah seharusnya menjadi tempat yang aman bagi anak-anak dengan gangguan jantung. Banyak orang tua mengira bahwa udara di dalam rumah bebas polusi, namun aktivitas seperti memasak, membakar dupa, dan debu rumah tangga dapat mencemari udara di dalam rumah. Penting untuk memastikan bahwa rumah memiliki ventilasi yang baik dan menggunakan air purifier dengan filter HEPA, terutama di ruang tidur anak.












