Kebiasaan menghabiskan uang sebelum kebutuhan utama terpenuhi bisa berakar dari pola yang terlihat sejak masa kanak-kanak. Anak belum memahami keuangan secara mendalam, tetapi mereka mengamati cara orang dewasa di rumah berbelanja, memakai kartu kredit, memberi hadiah, dan menghadapi rasa bosan atau tekanan emosional.
Menurut penelitian dari University of Michigan, sikap dan kebiasaan terhadap uang mulai terbentuk sejak usia dini. Melansir Yourtango, sejumlah perilaku orang tua berpotensi memengaruhi cara anak mengambil keputusan finansial ketika dewasa.
Belanja sebagai pelarian dan hadiah
Salah satu pola yang dapat tertanam adalah menjadikan uang sebagai sarana untuk mencari kenyamanan. Ketika sedang sedih, stres, bosan, atau merasa tidak nyaman, seseorang mungkin berbelanja untuk mengalihkan perasaan tersebut. Kebiasaan ini dikenal sebagai retail therapy.
Jika anak berulang kali melihat orang tua mengatasi emosi dengan membeli sesuatu, ia dapat menganggap belanja sebagai cara utama untuk merasa lebih baik. Pola itu mungkin terbawa hingga dewasa, ketika pengeluaran dilakukan setiap kali muncul emosi yang tidak menyenangkan.
Belanja juga bisa dikaitkan dengan penghargaan atas pencapaian. Kalimat seperti, “Sudah bekerja keras, jadi boleh membeli sesuatu,” terdengar biasa, tetapi pengulangan kebiasaan tersebut dapat membuat anak menghubungkan keberhasilan dengan aktivitas belanja.
Ketika dewasa, ia mungkin memberi hadiah kepada diri sendiri setiap kali menyelesaikan pekerjaan atau mencapai sesuatu. Barang yang dibeli belum tentu dibutuhkan, sementara pengeluaran dapat bertambah tanpa disadari.
Pembenaran belanja dan prioritas yang terbalik
Alasan lain yang berpotensi membentuk perilaku konsumtif adalah anggapan bahwa seseorang “pantas” membeli sesuatu. Kalimat “Saya pantas mendapatkannya” dapat menjadi pembenaran yang kuat untuk berbelanja.
Namun, perasaan pantas memperoleh barang tertentu tidak otomatis berarti keputusan pembelian tersebut tepat secara finansial. Jika sejak kecil anak melihat orang tua menggunakan alasan serupa, pola pikir itu bisa terbawa hingga dewasa, termasuk ketika kondisi keuangan sedang tidak sehat.
Pola berikutnya terlihat dari kebiasaan mendahulukan kesenangan dibandingkan membayar tagihan. Anak yang menyaksikan orang tua segera menghabiskan uang setelah menerima gaji dapat memandang pemasukan sebagai kesempatan untuk bersenang-senang.
Dalam kehidupan dewasa, kebiasaan itu mungkin muncul kembali ketika uang yang baru masuk rekening langsung digunakan untuk belanja, makan, atau hiburan. Tagihan dan kebutuhan penting kemudian dipikirkan belakangan.












