**52% Milenial dan Gen Z Rela Bayar Lebih untuk Wisata Berkualitas**

Perubahan perilaku wisatawan mendorong industri pariwisata Indonesia untuk tidak lagi hanya menjual destinasi. Wisatawan, terutama dari kalangan milenial dan Gen Z, kini mencari pengalaman yang autentik, personal, dan bermakna. Sebanyak 52 persen dari kelompok tersebut bahkan bersedia membayar lebih demi memperoleh pengalaman wisata yang berkualitas.

Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa mengatakan perubahan tren itu harus dijawab dengan pengembangan produk wisata yang mampu memperpanjang masa tinggal sekaligus meningkatkan belanja wisatawan. Menurut dia, kualitas pengalaman menjadi kunci agar kunjungan ke suatu daerah tidak berhenti pada aktivitas mendatangi tempat wisata.

MICE dan bleisure jadi fokus pengembangan

Kementerian Pariwisata merespons perubahan minat tersebut dengan memperkuat wisata pengalaman melalui dua dari enam tren wisata global, yakni MICE dan bleisure. MICE merupakan sektor perjalanan yang berkaitan dengan pertemuan, insentif, konferensi, dan pameran, sedangkan bleisure adalah perpaduan perjalanan bisnis dan rekreasi.

Tren bleisure berkembang karena wisatawan yang datang untuk menghadiri sebuah acara tidak hanya mengikuti rangkaian kegiatan utama. Mereka juga memanfaatkan waktu untuk menikmati daya tarik wisata, kuliner, serta berbagai pengalaman yang tersedia di daerah penyelenggara acara.

Berdasarkan ICCA Global Watch Business Analytics Country and City Ranking 2025, Indonesia berada di peringkat ke-37 dunia dan posisi ke-4 di kawasan ASEAN. Namun, Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah dalam membangun ekosistem pariwisata yang saling terhubung. Ekosistem tersebut mencakup penyedia atraksi wisata, hotel, hingga pelaku usaha kuliner.

Ni Luh menyampaikan pandangan itu dalam acara Indonesia Tourism and MICE Outlook (ITMO) 2027, Kamis, 24 September 2026. Ia menilai pengembangan MICE perlu diarahkan pada penciptaan pengalaman yang memberi nilai lebih bagi wisatawan dan destinasi.

“Pengembangan MICE Indonesia harus bergeser dari sekadar menghadirkan event menuju penciptaan pengalaman yang bernilai. Pengalaman tersebut harus mampu memperkuat destinasi, menggerakkan ekonomi lokal, dan juga meningkatkan daya saing Indonesia di panggung MICE dunia. Dengan kata lain, Indonesia tidak hanya menawarkan venue, tapi juga pengalaman di dalamnya,” kata Ni Luh Puspa.

Dampak ekonomi melibatkan UMKM dan komunitas

Penyelenggaraan acara dinilai memiliki dampak ekonomi yang menjangkau banyak sektor. Data Kementerian Pariwisata mencatat, program Event by Indonesia sepanjang 2025 mendatangkan 12,2 juta pengunjung. Program tersebut juga menggerakkan 20.887 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta melibatkan 257.561 tenaga kerja, termasuk pelaku seni dan anggota komunitas.

Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata Ni Made Ayu Marthini mengatakan wisata pengalaman akan menjadi arah masa depan pengembangan pariwisata Indonesia. Pengembangan itu ditujukan untuk menciptakan wisata berkualitas tinggi dengan tiga komponen utama: penghargaan terhadap budaya, alam, dan koneksi antarmanusia.

Menurut Ni Made, ketiga unsur tersebut harus hadir secara bersamaan. Tanpa penghargaan terhadap budaya dan alam serta hubungan antarmanusia, pengalaman wisata yang ditawarkan tidak akan mencapai kualitas yang diharapkan.

Source link