Peran Dokter Umum dalam Deteksi Dini Osteoporosis
Di Indonesia, kasus osteoporosis sering baru terdeteksi setelah pasien mengalami patah tulang, mengingat kondisi ini tanpa gejala yang jelas. Oleh karena itu, Perhimpunan Osteoporosis Indonesia (PEROSI) menekankan pentingnya peran dokter umum di fasilitas kesehatan tingkat pertama untuk melakukan deteksi dini dan pencegahan.
Meningkatkan Kompetensi Dokter Umum
Ketua Umum PB PEROSI, Dr. dr. Tirza Z. Tamin, SpKFR, M.S(K), FIPM(USG), menegaskan bahwa dokter umum di FKTP merupakan garda terdepan dalam penanganan osteoporosis. Pelatihan telah dilakukan bagi dokter di puskesmas dan klinik agar dapat mengenali faktor risiko, melakukan skrining, dan memberikan penanganan awal sebelum dirujuk ke FKRTL jika diperlukan.
Sebelumnya, 10 organisasi profesi dokter spesialis telah dilibatkan dalam pelatihan untuk penanganan osteoporosis, termasuk penyakit dalam, ortopedi, radiologi, obstetri dan ginekologi, neurologi, gizi klinik, dan lainnya.
Deteksi Dini: Kunci Utama
Dokter Bidang 2 PB PEROSI, Dr. Faisal Parlindungan, SpPD-KR, menekankan bahwa deteksi dini merupakan kunci utama dalam penanggulangan osteoporosis. Gejala umumnya tidak muncul sebelum terjadi patah tulang, sehingga penilaian risiko dan skrining perlu dilakukan secara terstruktur.
PEROSI telah berkolaborasi dengan Kementerian Kesehatan untuk menyertakan kuesioner skrining osteoporosis dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Kuesioner singkat ini dapat membantu mengidentifikasi risiko pasien yang perlu menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Selain deteksi dini, penguatan layanan kesehatan primer dan Fracture Liaison Service (FLS) di rumah sakit menjadi fokus dalam upaya mencegah komplikasi akibat osteoporosis dan fraktur berulang.
Osteoporosis di Indonesia
Di Indonesia, prevalensi osteoporosis mencapai sekitar 30 persen, dengan tingkat pemeriksaan BMD yang masih terbatas. Upaya edukasi, deteksi dini, dan pencegahan di tingkat masyarakat menjadi langkah penting dalam menangani masalah ini sejak dini.












