Banyak yang tidak menyadari bahwa perlemakan hati atau fatty liver semakin banyak menyerang kelompok usia muda, terutama di usia 30-an tahun. Hal ini disampaikan oleh dr. Widya Khairunnisa Sarkowi, seorang dokter sekaligus dosen di IPB University. Fatty liver terjadi karena adanya penumpukan lemak di hati yang terkait dengan gangguan metabolisme tubuh. Meskipun sering kali tanpa gejala yang jelas, penyakit ini dapat merusak hati secara permanen.
Fenomena Fatty Liver pada Usia Muda
Meskipun tidak hanya dialami oleh individu dengan obesitas, diabetes melitus, atau gangguan metabolik lainnya, sebagian besar kasus fatty liver terjadi pada orang-orang dengan kondisi tersebut. Menurut dr. Widya, prevalensi fatty liver secara global diperkirakan mencapai 30 persen dan cenderung meningkat dari waktu ke waktu. Data dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 juga menunjukkan peningkatan prevalensi obesitas di Indonesia.
Pencegahan Fatty Liver dengan Perubahan Gaya Hidup
Dr. Widya menekankan pentingnya perubahan gaya hidup dalam mencegah dan mengatasi fatty liver. Penggunaan obat-obatan atau suplemen tanpa disertai perubahan gaya hidup yang sehat tidak akan memberikan hasil yang optimal. Ada lima pesan edukasi penting yang perlu diterapkan masyarakat, sesuai anjuran WHO.
1. Menurunkan Berat Badan Secara Bertahap
Penurunan berat badan sebesar 5-10 persen terbukti efektif mengurangi lemak hati, peradangan, dan risiko fibrosis. Hal ini dapat dilakukan dengan mengatur pola makan dan rutin berolahraga.
2. Mengurangi Konsumsi Gula dan Kalori Tinggi
Minuman manis dan makanan tinggi gula serta kalori perlu dibatasi. WHO merekomendasikan konsumsi gula bebas kurang dari 10 persen dari total kebutuhan energi harian.
Pola makan seimbang juga menjadi kunci dalam mencegah fatty liver. Komposisi piring yang sehat terdiri dari setengah bagian sayur dan buah, seperempat protein, serta seperempat karbohidrat. Menghindari makanan ultraproses dan camilan tinggi kalori juga sangat dianjurkan.












