Mengenal PMDD: Saat Mood Swing Ekstrem

Pahami Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD): Saat Mood Swing Menjadi Ekstrem

Apakah kamu pernah merasakan perubahan mood yang sangat ekstrem menjelang menstruasi? Mulai dari kesedihan, kecemasan, hingga kemarahan yang sulit untuk dikendalikan, kondisi tersebut seringkali dianggap sebagai bagian dari Sindrom Pramenstruasi (PMS) yang umum terjadi. Namun, jika tekanan emosional yang dirasakan lebih berat, berulang, dan mengganggu aktivitas sehari-hari, kemungkinan itu bukanlah sekadar PMS biasa.

Menurut penjelasan dari dr. Thejaswini, seorang spesialis kandungan dan kebidanan, kondisi ekstrem seperti ini dapat menjadi gejala dari Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD). PMDD biasanya terjadi pada fase luteal, yakni periode sekitar seminggu sebelum menstruasi dimulai, setelah terjadi ovulasi. Dr. Thejaswini menegaskan bahwa PMDD dapat memicu tekanan emosional yang jauh lebih berat dibandingkan dengan PMS.

Kompleksitas Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD)

“PMDD sering kali disalahpahami sebagai ketidakseimbangan hormon biasa, padahal kondisi ini jauh lebih kompleks,” ungkap dr. Thejaswini seperti dilansir dari Hindustan Times. Penderita PMDD dapat mengalami depresi, kecemasan, kemarahan, perubahan emosi yang ekstrem, serta sensitivitas yang tinggi terhadap penolakan. Gejala fisik seperti tubuh terasa berat, kelelahan, dan gangguan pencernaan juga sering dialami oleh penderita PMDD.

Meskipun kadar estrogen dan progesteron dalam tubuh perempuan dengan PMDD cenderung normal sepanjang siklus menstruasi, namun permasalahan utamanya terletak pada sensitivitas sistem saraf terhadap perubahan hormon yang terjadi secara alami. Hal ini menjadikan PMDD sebagai kondisi yang lebih kompleks dan tidak hanya sebatas perubahan hormon biasa.

Source link