Migrain dengan Aura pada Usia 40-an dan Risiko Strok

Migrain dengan Aura Tingkatkan Risiko Strok pada Usia Paruh Baya

Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa individu paruh baya, khususnya yang berusia antara 40 hingga 49 tahun, yang mengalami migrain dengan aura memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terkena strok. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Neurology dan mencatat bahwa penderita migrain dengan aura memiliki risiko strok 73 persen lebih tinggi.

Aura sendiri merupakan gangguan visual atau sensorik yang muncul sebelum serangan migrain. Gejala tersebut dapat berupa kilatan cahaya, titik-titik terang, garis zigzag, pandangan kabur, bahkan titik buta (skotoma). Penelitian ini menyoroti hubungan antara migrain dengan aura dan risiko strok, namun tidak ditemukan adanya peningkatan risiko strok pada penderita migrain tanpa aura.

Penelitian pada Kelompok Paruh Baya

Dr. Adam Sprouse Blum, peneliti utama dari University of Vermont, menjelaskan bahwa sebelumnya penelitian lebih banyak meneliti hubungan antara migrain dengan strok pada kelompok usia yang lebih muda. Oleh karena itu, penelitian ini difokuskan pada kelompok paruh baya guna mengetahui risiko yang mungkin terjadi.

“Studi kami menemukan bahwa, mirip dengan kelompok usia yang lebih muda, migrain dengan aura juga terkait dengan peningkatan risiko strok iskemik pada orang dewasa usia paruh baya dan lanjut usia,” ujar Dr. Adam seperti dilansir oleh laman US News.

Source link