Wakil Ketua Umum Partai Garuda, Teddy Gusnaidi, memberikan tanggapan terhadap narasi pemakzulan yang disampaikan oleh Prof. Saiful Mujani terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Teddy menekankan bahwa pernyataan Prabowo sebelumnya tidak secara langsung menyebut pihak tertentu, tetapi justru memicu reaksi dari kelompok yang merasa tersinggung. Respons yang ditunjukkan oleh beberapa pihak dapat dilihat oleh publik sebagai bentuk pengakuan tidak langsung terhadap pernyataan tersebut.
Dalam mengilustrasikan situasi ini, Teddy menggunakan analogi sederhana tentang ‘kentut di dalam angkot’. Ia menjelaskan bahwa Prabowo sebagai seorang presiden mengetahui siapa yang bertanggung jawab atas suatu peristiwa, namun tidak menyebut nama secara spesifik. Hal ini mirip dengan situasi ketika seseorang kentut di dalam angkot, di mana sopir angkot tidak secara langsung menunjuk pelakunya, namun ada orang yang merespons terhadap kejadian tersebut.
Analogi tersebut diteruskan dengan menggambarkan reaksi dari seseorang yang merasa tersentuh atas pernyataan tersebut. Dengan memberikan contoh dalam kehidupan sehari-hari seperti kejadian di dalam angkot, Teddy mencoba menjelaskan bahwa respons yang muncul setelah pernyataan Prabowo sebenarnya ditujukan kepada pelaku sesungguhnya. Hal ini dapat memperkuat persepsi publik bahwa pihak yang langsung merespons mungkin merasa terlibat dalam konteks yang dibicarakan.
Melalui tanggapannya, Teddy menggarisbawahi pentingnya interpretasi atas reaksi yang muncul sebagai bagian dari pemahaman terhadap konteks pernyataan tersebut. Respons yang ditunjukkan oleh berbagai pihak juga dapat memberikan gambaran tentang sejauh mana pernyataan tersebut memiliki dampak dan resonansi di kalangan masyarakat.












