Perusahaan keamanan siber Kaspersky mencatat pertumbuhan positif dalam bisnisnya di Indonesia, dengan peningkatan penjualan sebesar 3 persen setiap tahunnya. Segmen bisnis ke konsumen (B2C) menunjukkan peningkatan yang signifikan dengan pertumbuhan sebesar 48 persen per tahunnya. Ancaman siber yang semakin berkembang telah memberikan dampak langsung pada organisasi, mulai dari gangguan operasional hingga kerugian finansial. Untuk menghadapi risiko serangan yang lebih tinggi, organisasi perlu beralih dari pendekatan keamanan reaktif menjadi strategi proaktif berbasis intelijen dengan membangun Pusat Operasi Keamanan (Security Operations Center/SOC).
Data terbaru dari Kaspersky menunjukkan bahwa lebih dari setengah pemimpin dan pengambil keputusan TI di Indonesia percaya bahwa pembangunan SOC dapat meningkatkan tingkat keamanan siber mereka. Selain itu, sebagian besar perusahaan di Indonesia berencana untuk meningkatkan SOC dengan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan efektivitas deteksi ancaman siber. Namun, implementasi SOC terintegrasi dengan dukungan SIEM dan intelijen ancaman real-time dianggap sangat penting untuk mendeteksi ancaman dini, respons cepat terhadap insiden, dan menjaga ketahanan bisnis dengan baik dalam menghadapi ancaman yang semakin dinamis.
Melalui implementasi SOC terintegrasi, Kaspersky Indonesia berkomitmen untuk memperkuat ketahanan siber di Indonesia dan melindungi aset digital di tengah lanskap ancaman yang semakin kompleks. Sebuah studi juga menunjukkan bahwa mayoritas perusahaan di Asia Pasifik melihat AI sebagai kunci untuk memperkuat SOC mereka. Namun, tantangan seperti keterbatasan data, talenta, dan biaya tetap menjadi hambatan utama dalam implementasi teknologi AI. Maka, dengan menghadirkan SOC terintegrasi yang didukung oleh teknologi terbaru, organisasi dapat lebih siap dalam menghadapi ancaman siber yang semakin berkembang.












