Idul Fitri merupakan momen perayaan di Indonesia yang identik dengan tradisi open house, di mana meja makan dipenuhi dengan hidangan khas seperti opor ayam, rendang, sambal goreng ati, dan berbagai kue kering. Setelah sebulan berpuasa, transisi dari pola makan yang bersifat puasa menuju kaya lemak dan santan dapat menimbulkan masalah kesehatan. Untuk mengatasi hal ini, dr. Waluyo Dwi Cahyono, SpPD-KEMD, FINASIM, mitra dokter spesialis Halodoc, memberikan tips praktis agar merayakan Idul Fitri dengan lancar tanpa gangguan seperti diare atau kelelahan.
Pentingnya porsi makan yang seimbang sangat ditekankan. Meskipun boleh menikmati hidangan kaya lemak, seperti opor dan rendang, disarankan untuk seimbangkan dengan konsumsi sayur dan buah yang cukup. Serat dari sayuran akan membantu mengontrol penyerapan lemak di saluran pencernaan. Selain itu, transisi pola makan perlu dilakukan secara perlahan untuk memberikan tubuh waktu untuk beradaptasi setelah sebulan berpuasa. Hindari makanan pedas atau asam secara mendadak setelah puasa.
Penggunaan metode memasak kreatif, seperti memanggang atau menumis dengan sedikit minyak berkualitas, disarankan untuk menjaga rasa makanan tanpa menambah lemak jenuh berlebih. Hal lain yang tak kalah penting di tengah kesibukan silaturahim adalah asupan cairan dan istirahat yang cukup. Menjaga kesehatan selama Hari Raya bukan berarti mengorbankan kesenangan. Dengan penyesuaian sederhana dalam memasak dan mengonsumsi makanan, kita dapat menikmati Idul Fitri dengan keluarga tanpa khawatir akan masalah pencernaan dan metabolisme.












